This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Minggu, 09 November 2008

Sastra Religiustitas yang Berkualitas

Oleh Mhd Darwinsyah Purba

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendaptkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Salah satunya dari Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair Persia terkemuka. Salah satu puisinya yang dikenal dalam hal ini adalah:

Jangan tanya apa agamaku
bukan Yahudi
bukan Zoroaster
bukan pula Islam

Karena aku tahu
begitu suatu nama kusebut
begitu Anda memberikan arti yang lain
Daripada makna yang hidup di hatiku


Abu Mansur Al Hallaj (tokoh sufi dikenal dengan ungkapan ektasenya: Anal Haq), juga pernah menulis gagasannya tentang religiusitas dan agama: Aku telah renungkan agama-agama, yang membuatku berusaha keras untuk memahaminya. Dan aku baru sadar bahwa agama-agama itu, kaidah-kaidah unik, dengan sejumlah cabang.

Di sisi lain yang bermain dalam konteks agama-agama formal adalah yang terkait dengan dogma, sehingga kungkungan adanya konsep realisme dogmatis atau idealis dogmatis begitu mewarnai konstruksi dan penyebutan sastra religius itu. Dalam satu sisi, hal ini hampir sama dengan konsep realisme sosial yang digagas dalam sastra-sastra marxis, terlebih komunis.

Poisisi ini tidak akan menemukan titik tertingginya, jika acuannya memang benar-benar sangat formalis, karena selama ini religiusitas dipahami sebagai sebuah kualitas keagamaan. Dalam satu sisi religiusitas berbeda dengan sitem religi. Religiusitas tidak hanya berkutat pada masalah ketuhanan yang digariskan agama formal. Religiusitas lebih mengarah pada kesadaran ketuhanan yang termanifestasikan dalam nilai-nilai dan asas kemanusiaan.

Jadi posisinya tidak hanya transeden dalam arti teologi, tetapi juga imanen. Dalam kerangka Islam, tendensi yang diemban bukan hanya hubungan dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga fungsi sosialnya, hubungan dengan sesamanya (hablum minan nas). Jadi posisi manusia juga diperhatikan, dan yang menjadi acuan adalah faktor kemanusiaan yang luas, yang menjadi landasan dari sebuah bangunan keagamaan. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra religius tidak mengacu pada dogma yang bermain dalam tataran hukum positivisme atau syariah.

Dalam masalah keindahan, Sayyed Husein Nasr mengungkap bahwa dalam keindahan itu terdapat pengetahuan tertinggi dan kesucian, sehingga seni-seni tradisional yang meliputi jiwa murni seharusnya memang dikembangkan, sebab posisi kemanusiaan benar-benar terpelihara. Di sini, posisi agama tidak lagi beban dalam upaya mengejawantahkan ekspresi dalam wilayah estetika dan proses kreatif.

Kondisi ini akan berlaku, jika pemahaman agama tidak terkungkung dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal. Dalil-dalil yang mengacu pada pemahaman yang dangkal pada kebebasan dan pembebasan ekspresi dalam seni memang harus ditafsir-ulangkan. Pembacaan tidak lagi bersifat heuristik, tetapi hermeneutik, dengan mengacu tiadanya prasangka dan proses penafsiran atau pembacaan itu merupakan bagian dari sejarah itu sendiri, seperti ide hermeneutika yang pernah digagas Gadamer.

Dengan landasan kemanusiaan, pembacaan terhadap realitas keagamaan itu bisa pula menggunakan strategi dekonstruksi Derrida, dengan paradigma bahwa sebuah teks itu tidak utuh. Ia memiliki celah dan jarak pemaknaan. Bisa pula dengan discourse Foucault dengan melihat asal pengetahuan dan konteks terjadinya teks. Umpamanya, jika agama formal melarang menvisualkan manusia, maka posisi seni tidak lagi terlarang menvisualkan manusia, dengan mempertimbangkan kembali bahwa manusia tidak lagi manifestasi dari ‘Tuhan’. Ada jarak pemaknaan dan rentang waktu dan bergesernya penafsiran. Di sisi lain, religiusitas dikembalikan pada posisi asali, tidak lagi apriori pada ‘the other’ atau manusia lain di luar keyakinan sendiri.

Hal itu karena dengan merujuk pada sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang tidak lagi memberikan previliese dengan mengedepankan binary oposotion dalam pemihakan kebenaran atau memberi keistimewaan pada pihak-pihak tertentu, maka konsepsi religiusitas itu tidak hanya membentur dinding konsep status quo. Sebab, ambiguitas pada realitas bisa memberikan nilai tambah bahwa seni, sastra dan budaya bisa menelusup dalam bayang Tuhan dalam memahami realitas kemanusiaan. Ia, seni dan sastra religius, bisa jadi tidak sekedar pengejawantahan nilai-nilai agama. Religiusitas menjelma ruh atau nyawa dari konstruksi kebudayaan yang mengusung humanisme.

Mungkin yang perlu dikedepankan di sini, bahwa proses penciptaan karya-karya religius tidak harus terjebak pada dogma agama. Ia bersifat bebas dan merupakan proses pembebasan juga. Bisa menggunakan lambang-lambang agama formal sebagai bahan, hanya saja ada pertanggung jawaban estetik. Dalam hal ini, bisa berupa sebagai pengangkatan pada celah dan sisi yang perlu diperbaiki dari agama itu, yang mungkin lebih menekankan pada aturan-aturan rutinitas dan tidak sampai pada penghayatan yang menyusup hingga tulang sumsum, dengan sentral masih berkutat dan berpihak pada sisi kemanusiaannya.

Erich From dalam To Have or To Be pernah menegaskan, religiustitas merupakan ornamen dari watak sosial yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan religius yang sudah melekat pada diri manusia, sebagai kebutuhan asasi. Ia mesti tidak berkaitan dengan sistem yang berhubungan dengan Tuhan atau berhala, melainkan pada sistem pemikiran atau tindakan yang memberikan pada individu suatu kerangka oroentasi dan suatu objek kebaktian. Hal ini mengacu pula pada konsep agama yang membebaskan yang digagas Fromm dalam Religion dan Psychoanalysis. Seperti juga yang ditulis Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra: “Aku butuh Tuhan yang mengerti bagaimana menari”.

Dalam sastra Indonesia modern, sastra religius yang paling baik masih dipegang oleh cerpen AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Dalam cerpen yang kental dengan tradisi Minang yang memang ketat dalam masalah agama, cerpen itu sepenuhnya mengusung nilai-nilai religiusitas yang tidak mempermasalahkan aspek religius dalam penyebutan Tuhan dalam agama formal, tetapi lebih menekankan pada faktor manusianya, dengan jalan menggugah keberadaan manusia itu sendiri dalam sistem religi yang berkembang di sana. Bahkan, dalam satu sisi, cerpen ini mempertanyakan nilai terdalam dari sistem religi itu, dengan memunculkan nilai-nilai religiustitas yang perlu ditumbuhkembangkan. Bahkan, ‘surau’ bisa pula dianggap sebagai penanda dari sebuah kebobrokan sistem yang hanya mengedepankan sebuah tatanan formal dan mapan dari sebuah agama.

Cerpen pujangga

Malam-Malam Iyem

Oleh Mhd Darwinsyah Purba

Ini sudah hari ke empat Iyem kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakin mendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun dengan masai lalu duduk termenung.

Sebetulnya itu bukan urusanku. Karena Iyem bukan siapa-siapaku. Ia hanya menyewa sebuah kamar di rumahku. Ia tinggal bersamaku baru dua bulan ini. Tetapi entah kenapa aku langsung menyukainya.

Rumahku tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu bagus. Sederhana saja. Rumahku berada di kampung yang dindingnya rapat dengan tembok rumah sebelah. Ada tiga kamar kosong. Tetapi aku tinggal sendirian. Karenanya aku menyewakan kamar-kamar kosong itu untuk menunjang hidupku di samping aku membuka sebuah warung kelontongan kecil di depan rumah.

Penghuni kamar pertama adalah Anita. Ia cantik dan selalu wangi karena ia bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.

Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuah restaurant. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama. Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.

Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang rese’. Mereka kuberi kunci pintu supaya bila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatku terganggu. Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Toh mereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku, mereka cukup baik. Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang mereka lakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukan perempuan baik-baik.

Iyem datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun di bawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik dengan matanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan saja kamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Ia membuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna. Perempuan di masa lampau yang…ah…aku luka bila mengingatnya.

Oh ya, Iyem juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah, bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluar rumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepon dari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.

Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua minggu terakhir Iyem tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima atau menelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yang menyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini.

"Iyem, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung…," aku tidak bisa mengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah. Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. Tetapi Iyem kulihat masih termangu dengan mata kosong.

Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di matanya yang selalu beriak. Tetapi ia cuma menggeleng.

"Apa yang sekiranya bisa Mbak bantu?" aku tidak peduli andai ia menganggapku rese’.

Lagi-lagi hanya gelengan. Ia masih duduk seperti arca membatu. Tapi mampu kubaca pikirannya gentayangan. Rohnya tidak berada di tubuhnya. Entah ke mana mengejewantah.

Iyem memang tidak pernah bercerita tentang dirinya, tentang orang tuanya, asalnya, sekolahnya, perasaannya, atau tentang laki-laki yang kerap meneleponnya. Aku sendiri juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dia bagi kepada orang lain. Maka biarlah ia menyimpannya sendiri. Bukankah aku juga seperti itu?

Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yang terluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Iyem. Aku merasa tersayat. Karena sunyi seperti ini sudah kusimpan lima tahun lamanya. Kenapa sekarang mendadak hadir kembali?

Lalu aku bangkit dari dudukku, mengambil satu seri kartu sebesar kartu domino. Tetapi yang tergambar bukan bulatan-bulatan merah. Tetapi berbagai macam bentuk berwarna hitam. Aku menyimpannya sudah lama. Sejak mataku selalu berembun, lalu embun itu menitik di ujung hati. Sejak sepi yang tanpa warna mulai mengakrabi aku. Sejak itulah aku mulai berbagi resah dengan kartu-kartu ini. Mereka banyak memberiku tahu tentang apa saja yang aku ingin tahu.

Anita dan Tina sering melihatku bermain dengan kartu-kartuku di tengah malam ketika mereka pulang. Sejak melihatku bermain dengan kartu-kartu ini, mereka juga sering ikut bermain. Ada saja yang mereka ceritakan padaku melalui kartu-kartu ini. Jualan yang sepi, para langganan yang pelit memberikan tips sampai kepada pacar-pacar mereka yang datang dan pergi.

Aku menyulut sebatang dupa India. Aromanya semerbak langsung memenuhi ruangan. Aku suka. Setidaknya mengusir hampa yang sejak tadi mengambang di udara. Kukocok setumpuk kartu itu di tanganku. Kuletakkan di atas meja di depan Iyem.

"Mari, temani Mbak bermain kartu. Ambillah satu…," ujarku.
Mata Iyem memandangku. Bibirnya tetap rapat. Tetapi matanya mulai berembun. Dengan sebuah gerakan lamban tanpa semangat ia mengambil sebuah kartu. Lalu membukanya.

"Ah! Hatimu sedang kacau, sedih, kecewa, tidak menentu. Kau terluka," gumamku ketika melihat kartu yang dibukanya.

Seperti aku dulu…, aku melindas gelinjang rasa yang sudah lama kupendam.
Aku mulai membuka kartu-kartu berikutnya. "Kau sedang memikirkan seseorang,…ah bukan…kau merindukannya…penantian… jalan panjang…menunggu…kau menunggu seorang laki-laki?"
"Ya," suaranya gamang terdengar seperti datang dari dunia lain.

Kuteruskan membuka kartu-kartu itu. "Menunggu… halangan… perempuan…dia beristri?" kutanya ketika tampak olehku gambaran seorang perempuan di atas kartu itu.
"Ya," kali ini suaranya seperti cermin retak berderak. Ia luka sampai seperti sekarat.

Kurasakan derak-derak itu sampai menembus batinku. Kenapa seperti yang pernah kurasakan lima tahun lalu?
"Kamu mencintainya, Iyem?"
"Amat sangat!" kali ini ia menjawab cepat.

Kuhela napas panjang. Kubiarkan kartu-kartu berserakan di antara aku dan Iyem. Kulihat jantungnya seperti bulan tertusuk ilalang.

"Tetapi ia mengecewakanku, Mbak. Ia mengkhianati aku." Ia tidak mampu lagi menyembunyikan suara gemeretak hatinya yang bagaikan bunyi tembikar terbakar.

"Ia mengkhianati kamu? Bukannya ia yang mengkhianati istrinya? Bukankah ia sudah beristri?" aku bertanya, berpura-pura bodoh karena berusaha menyingkirkan masa lalu yang mulai menggigiti sanubariku. Perih itu masih terasa.

"Ya. Dia beristri. Tapi istrinya jahat sekali. Ia ingin meninggalkannya. Ia mencintaiku. Kami punya rencana masa depan," jawabnya naïf dan lugu.

Astaga! Seperti itukah diriku lima tahun silam? Aku benar-benar seperti melihat cermin diriku.

Kepulan asap dupa melemparku ke kepulan asap lain yang sama pekatnya lima tahun yang lalu. Aku berada di dalam kepulan-kepulan asap rokok tebal dari mulut para lelaki berduit yang kutemani duduk-duduk, minum, sampai ke kamar tidur. Para lelaki yang mabuk kepayang karena kecantikanku sebagai primadona di sebuah wisma di kompleks hiburan malam. Para lelaki kedinginan yang butuh kehangatan. Para lelaki kesepian yang butuh pelukan. Para lelaki yang tidak tahu lagi ke mana bisa menghamburkan uang mereka yang berlebihan.

"Istrinya jahat bagaimana? Namanya istri ya wajar saja dia tidak suka kalau suaminya berhubungan dengan perempuan lain," sahutku enteng atau tepatnya aku sudah terbiasa untuk "mengenteng-entengkan" jawaban yang ujung-ujungnya akan membuatku terluka. "Yang salah, ya suaminya. Sudah beristri kok masih bermain api. Tetapi namanya laki-laki ya begitu…," sambungku pelan.

Laki-laki memang begitu, desahku. Laki-laki memang suka bermain api. Laki-laki memang suka mendua. Seperti para lelaki yang datang dan pergi di atas ranjangku. Mereka terbakar hangus gairah memberangus, haus sampai dengus-dengus napas terakhir. Lalu mereka pergi setelah sumpalkan segepok uang di belahan dadaku.

"Tetapi Bejo tidak seperti itu!" sergah Iyem cepat. "Bejo mencintaiku, Mbak! Ia tidak akan meninggalkanku."

Ya! Prihadi juga tidak seperti laki-laki lain. Ia juga mencintaiku. Prihadi tidak seperti laki-laki lain yang meniduriku dengan kasar. Ia bahkan sangat lemah lembut untuk ukuran "membeli" kehangatan dari seorang perempuan seperti aku. Karena Prihadi, maka aku tidak mau menerima tamu yang lain. Ia menginginkan aku hanya untuknya, maka ia membeli dan menebusku dari induk semangku. Lalu ia membawaku keluar dari wisma itu dan membelikan aku sebuah rumah kecil. Ia pahlawan bagiku. Ia tidak meninggalkanku. Bahkan memberikan benih kehidupan baru yang tumbuh di dalam tubuhku. Aku bahagia sekali. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk meninggalkannya.

Kuputuskan untuk meninggalkan Prihadi ketika istrinya datang menemuiku dengan begitu anggun dan berwibawa. Berhadapan dengan perempuan yang begitu berkilau, tinggi, langsing dengan kulit kuning, ayu dengan wajah priyayi, tutur katanya lemah lembut, membuatku benar-benar merasa rendah dan tidak ada artinya. Ia sama sekali tidak menghardik atau mencaci-makiku. Ia sungguh nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan, kecuali…belum bisa memberikan anak untuk Prihadi!
"Kamu Ningsih? Aku istri Prihadi. Namaku Indah."
Oh, ia sungguh-sungguh seindah namanya.

"Aku tahu hubunganmu dengan suamiku," ujarnya dengan menekankan benar-benar kata "suamiku" itu. "Dan aku tahu kamu pasti perempuan baik-baik," lagi-lagi ia memberikan tekanan dalam kepada kata-kata "perempuan baik-baik" yang jelas-jelas ditujukannya kepadaku. "Sebagai perempuan baik-baik, kamu seharusnya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun," kali ini ia menekankan setiap kata-katanya sehingga membakat wajahku terasa panas.

"Iyem, sebagai perempuan baik-baik, seharusnya kamu tidak berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri…dengan alasan apa pun…," aku mengulangi kalimat yang kusimpan lima tahun yang lalu untuk Iyem. Sebetulnya itu klise, bukan? Hanya sekadar untuk menutupi gundah gulanaku yang entah kenapa merayapi seluruh permukaan batinku.

"Tetapi, Mbak, Bejo mencintaiku…," Iyem menjawab. Jawaban itu juga yang kuberikan lima tahun yang lalu kepada perempuan yang nyaris sempurna itu.

Tetapi ketika itu, ia justru memberikan senyum manisnya. Ia benar-benar tanpa ekspresi marah. "Laki-laki biasa seperti itu. Tetapi kamu kan perempuan baik-baik. Walaupun Prihadi menggoda, mengejar dan mencintaimu, tetapi bukankah sudah sepantasnya kamu menolaknya? Kamu kan tahu kalau dia sudah beristri?" lagi-lagi ia membuatku pias.
Aku berusaha mem-photocopy kata-kata usang itu untuk Iyem.
"Tetapi aku juga mencintai Bejo," ia melenguh getir.

Kurasakan getir yang sama ketika aku memberikan jawaban itu pula kepada istri Prihadi. Bahkan waktu itu aku masih memberikan tambahan jawaban. "Aku mengandung anak Prihadi…." Kuharap dengan jawabanku itu ia tidak akan mengusik perasaanku dengan kata-katanya yang lemah lembut tetapi terasa menampar-nampar.

"Baiklah, aku mengerti kalau kamu mencintai Prihadi," ia tertawa pelan tetapi sungguh terasa kian menusuk-nusuk.
Astaga! Ia tertawa! Terbuat dari apakah perempuan ini?

"Kalau kau mencintai seseorang, maka kau akan melakukan apa saja yang akan membuatnya bahagia kan?" Ia pandai sekali bermain kalimat. Sebentar kalimat pernyataan, sebentar kalimat tanya. Tetapi tidak ada satu pun dari kalimatnya yang membakatku merasa nyaman.

Hei! Konyol benar! Sudah syukur-syukur ia tidak memaki-makimu…, cetus batinku.
"Ya, aku akan melakukan apa saja untuk membuat Prihadi berbahagia."

"Nah, kau tahu kalau Prihadi adalah tokoh masyarakat yang cukup terkenal dan disegani di kota ini, kan? Ia memiliki kedudukan, kekayaan, karisma, dan nama baik. Apakah bisa kau bayangkan bagaimana reputasi Prihadi kalau sampai terbongkar mempunyai hubungan dengan perempuan lain…dan bahkan mempunyai anak di luar nikah?"

Oh…ia mempunyai tata bahasa yang sempurna! Ia sama sekali tidak menggunakan kata-kata kasar. Ia memakai istilah "mempunyai hubungan dengan perempuan lain", ia tidak mengatakan "mempunyai simpanan bekas pelacur", ia mengatakan "anak di luar nikah", ia tidak mengucapkan "anak haram". Apakah itu berarti ia menghargaiku? Tetapi kenapa aku justru tidak merasa dihargai? Aku justru merasa dipermalukan. Ataukah memang pantas aku dipermalukan?
"Bagaimana? Apakah situasi itu akan baik untuk Prihadi?"
"Tidak," aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali kata-kata itu.

Ia tertawa pelan tetapi kali ini benar-benar seperti tawa seorang algojo yang berhasil memengal kepala seorang tawanan yang sama sekali tidak melawan.

"Lalu bagaimana caramu untuk membuat Prihadi bahagia? Kamu tidak mau merusak semua yang sudah dimiliki Prihadi, kan?" Ia benar-benar algojo yang sempurna. Ia memenggal kepalaku tanpa rasa sakit sedikit pun.

Tinggal aku yang menggelepar, terkapar, tanpa pernah merasa sekarat meregang nyawa.

"Kalau kamu mencintai Prihadi, tinggalkan dia, gugurkan kandunganmu. Kamu pergi jauh dan memulai kehidupan baru. Aku akan membantumu. Kamu cantik sekali, Ningsih. Aku yakin, tidak akan sulit bagimu untuk mencari laki-laki baik yang belum beristri," ia menutup eksekusinya dengan kata-kata pelan tetapi penuh tekanan. "Jelas? Kuharap kamu cukup pandai untuk bisa mengerti semuanya," tandasnya.

Lalu tidak banyak yang bisa kubantah ketika ia "membantuku" menyelesaikan semuanya. Ia melakukan transaksi jual beli atas rumah yang kutempati. Ia menggantinya dengan sejumlah uang yang lebih dari cukup. Ia mengantarku ke dokter dan membayar semua ongkos "mengeluarkan" calon kehidupan yang bersemayam di tubuhku. Ia membelikan aku tiket pesawat. Ia mengantarku sampai ke bandara. Ia memeluk dan mencium pipiku, lalu berbisik, "Selamat menempuh hidup baru, Ningsih. Tolong, jangan ganggu kehidupan Prihadi. Terima kasih atas pengertianmu. Kamu memang perempuan yang baik…"
Oh! Ia benar-benar perempuan yang sempurna!

Sampai pesawatku tinggal landas, aku tidak bisa menitikkan air mata sama sekali. Apa yang perlu kutangisi? Perempuan itu tidak memaki atau menghinaku. Bahkan ia "membantuku" dan memberiku banyak uang untuk memulai kehidupan baru di kota yang jauh dari mereka. Terasa jutaan sembilu menikam-nikam. Hatiku terasa sakit tetapi mataku hanya bisa mengembun.

Sejak itu, aku berteman dengan kartu-kartu ini. Kartu-kartu ini pemberian induk semangku. Aku belajar dari dia membaca kartu-kartu ini. Dahulu, dari kartu-kartu ini, aku tahu apakah aku akan mendapat banyak tamu atau tidak? Apakah Prihadi akan datang atau tidak.
Ah, kutepis nama itu cepat-cepat.

Aku melanjutkan jalannya kartu-kartu yang masih berserakan di atas meja. Aku tidak mau mengingat masa lalu yang sudah sekian lama kukubur. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena sangat menyakitkan. Toh, dengan uang yang kubawa, aku bisa membangun kehidupan baru, membeli rumah ini, membuka warung kecil, menerima kos-kosan, bertemu Iyem…

"Halangan…rintangan…rindu…ah…ia tidak mempunyai uang!" Aku berusaha mengalihkan rasa lukaku dengan membaca kartu-kartu Iyem. Lagi-lagi ramalan itu yang kubaca dari kartu-kartu yang bertebaran. "Bingung…perempuan…halangan…Ia merindukanmu juga. Tetapi ia bingung bagaimana harus menghadapi istrinya," cetusku.

Iyem tertawa sumbang. "Bejo memang tidak punya uang. Istrinya yang kaya. Istrinya yang memegang kendali perusahaan. Istrinya sudah mengetahui hubungan kami. Dia lalu mengusirnya keluar dari perusahaan. Sekarang ia menghindar dariku, Mbak! Ia lebih mencintai kekayaan istrinya daripada perasaanku!"

"Bejo mengecewakanku, Mbak," sentaknya. Kali ini embun-embun di matanya berguguran menjadi rintik hujan. Mengalir deras menganak di lekuk-lekuk pipinya. "Bejo menipu hatiku, Mbak! Ia takut tidak bisa hidup kaya bila pergi bersamaku. Aku benci padanya!" Hujan itu sudah menjadi badai. Riuh rendah bergemuruh seakan puting beliung yang akan merubuhkan apa saja. Lara berkubang seperti seonggok daun-daun gugur di matanya yang tersayat.
"Apa yang kau inginkan darinya?"
"Aku ingin dia sakit…sesakit yang kurasakan!"

Aku tercenung. Sesakit itu pula yang pernah kurasakan. Betapa rasa benci itu melebihi rasa sakit. Aku juga benci setengah mati kepada Prihadi. Kenapa ia tidak mencariku kalau ia mencintaiku? Kenapa sejak istrinya yang begitu sempurna itu menemuiku, ia juga tidak pernah muncul? Lalu ketika istrinya "membantuku" untuk menyelesaikan semuanya, ia juga tidak ada kabar berita? Padahal sudah kucari seakan sampai ke ujung dunia. Apakah itu sudah merupakan kesepakatan mereka berdua?

Akhirnya, aku merasa pencarianku sia-sia. Ia kucari sampai ke ujung mimpi. Kubatin, kupanggil, kunanti, dengan seluruh pengharapan dan kerinduan. Tetapi ruang hampa yang kudapati. Sehingga, kuputuskan untuk bersahabat saja dengan rasa benci dan rasa sakit. Mungkin akan menjadi lebih ramah dan menyenangkan. Ternyata benar. Membenci lebih mudah daripada memaafkan. Sakit lebih nikmat daripada pengharapan. Jadilah rasa benci dan sakit yang kusimpan untuk Prihadi.

Malam demi malam, kusumpahi kandungan perempuan yang nyaris sempurna itu. Aku tidak rela menggenapi kesempurnaannya sebagai seorang perempuan dengan seorang anak, sementara ia menyuruh dokter untuk menyendok dengan mudah sebiji kacang hijau kecil di dalam rahimku. Biarkan ia juga menikmati sepi yang sama seperti sepi yang dibelikannya untukku.

Sejak malam itu, malam-malam Iyem juga menjadi sibuk. Iyem menjadi sangat menyukai malam seperti aku. Setiap malam, ia mengirimkan rasa sakit yang dirasakannya kepada Bejo.

Karya Sastra dalam Membangun Moralitas Bangsa

Oleh Mhd Darwinsyah Purba

Sesuai dengan hakikatnya yang imajinatif dan estetis, sastra dengan sendirinya mengandung intensi pengarangnya. Intensi itu mungkin berupa pikiran dan perasaan, pandangan dan gagasannya, atau segenap pengalaman kejiwaannya. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur pokok dalam karya sastra. Perpaduan aspek-aspek tersebut pada gilirannya membuat pembaca yang mampu memahaminya merasa senang dan dengan perasaan yang tidak mengenal jemu senantiasa menggaulinya. Bahkan, pada suatu ketika pembaca yang merasa terbius olehnya dengan seluruh keharuan yang dalam. Dengan kata lain, sifat-sifat karya sastra itu sendirilah yang menjadikannya dulce atau sweet 'menyenangkan'.

Penyair adalah penguasa kata-kata. "Tapi mereka tidak mengendalikan kata-kata secara otoriter, memangkas atau mencukur", kata penyair Taufiq Ismail, "mereka akan duduk santai, terbaring terpejam, membiarkan kata-kata mengukur emosinya, dan bernikmat-nikmat dengan kata-kata untuk mendapatkan pencerahan". Itulah agaknya yang dilakukan oleh penyair-penyair perempuan kita ini. Tidak semua penyair yang memberikan kontribusi hadir puisi dalam buku antologi tersebut hadir, tetapi agaknya kehadiran penyair dari Nagroe Aceh Darussalam, Sumbar, Makassar, Malang dan Jawa Tengah, agaknya cukup mewakili kawan-kawannya. Hampir semua perempuan penyair Riau tampil malam itu, sebut saja Murparsaulian, Hasnah Dumasari, Tien Marni, Herlelaningsih dan beberapa penyair muda yang berbakat seperti DM Ningsih

Pada sisi yang lain, pengalaman jiwa yang mampu menggugah keharuan pembaca itu pada dasarnya merupakan perpaduan pengalaman jiwa dengan sifat estetis karya. Dengan demikian, ia akan merupakan pengalaman yang besar dan agung, yang berisi pandangan hidup dan filsafat yang tinggi, yang dapat menimbulkan renungan-renungan moral. Pada gilirannya keagungan pengalaman jiwa itulah yang juga dapat memperkaya pengalaman jiwa serta mempertajam perasaan pembaca, sehingga karya sastra memenuhi fungsinya sebagai karya yang utile, useful, berguna bagi kehidupan manusia.

Dalam hubungannya dengan sejarah, Kuntowijoyo (1981) menyatakan adanya tiga fungsi sastra, yakni bahwa karya sastra sebagai simbol verbal mempunyai fungsi sebagai cara pemahaman, cara komunikasi dan cara kreasi. Objek karya sastra adalah realitas, apa pun juga yang disebut realitas Apabila realitas itu berupaya peristiwa historis, karya sastra dapat: (1).mencoba menerjemahkan peristiwa itu ke dalam bahasa imajiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarang; (2).karya sastra dapat menjadi sarana bagi pengarangnya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan mengenai suatu peristiwa sejarah; dan (3).seperti juga karya sejarah, karya sastra dapat merupakan penciptaan kembali sebuah peristiwa sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarangnya.

Dalam karya sastra yang menjadikan peristiwa sejarah sebagai bahan, ketiga peranan simbol verbal itu dapat menjadi satu. Perbedaan masing-masing hanya dalam kadar campur tangan dan motivasi pengarang. Sebagai cara pemahaman, misalnya, kadar peristiwa sejarah sebagai aktualitas atau kadar faktisitasnya lebih rendah daripada imajinasi pengarang. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih merupakan asumsi teoretik yang dalam pelaksanaannya sukar membedakan cara-cara itu dalam sebuah atau di antara karya-karya sastra. Kubah Ahmad Tohari, Bawuk Umar Kayam, atau Pariyem Linus merupakan sekadar contoh bagi karya-karya sastra yang mencoba mengangkat peristiwa sejarah sebagai bahan bakunya.

Di samping kategori-kategori dan rumusan-rumusan fungsi sastra bagi kehidupan di atas, masih terdapat sejumlah rumusan lain yang berbeda pula sudut pandangnya. Rumusan itu antara lain yang dikemukakan oleh Moody (1971) yang menyorotnya dari segi pendidikan, oleh Spegele (1974) yang menyorot dari segi sosial dan politik, dan oleh Teeuw (1982) yang mempertimbangkannya dalam kaitannya dengan norma sosial-budaya.

Ada keterkaitan khusus antara karya sastra dengan moral. Banyaknya karya sastra yang mengandung nilai-nilai moral membuktikan hal tersebut. Mengapa? Karena dengan terkandungnya nilai-nilai moral dalam sebuah karya sastra maka pengarang dapat merefleksikan pandangan hidupnya melalui nilai-nilai kebenaran sehingga karya sastra tersebut dapat menawarkan pesan-pesan moral yang berkaitan dengan sifat luhur manusia, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat luhur manusia yang digambarkan pengarang melalui sikap dan tingkah laku para tokoh dalam sebuah karya sastra dapat membantu membentuk pribadi pembaca sebagai mahluk Tuhan yang bermartabat dan berakhlak menjadi lebih baik lagi. Inilah pesona karya sastra dalam pendidikan moral.

Nilai moral yang akan disampaikan pengarang menyatu dalam alur cerita. Dalam cerita itu pembaca akan bertemu dengan berbagai perbuatan para tokoh yang dilukiskan pengarang dalam berbagai peristiwa. Dengan sendirinya pembaca akan memahami perilaku-perilaku yang baik dan perilaku yang buruk. Melalui alur cerita itulah pengarang memberikan petunjuk, nasihat, atau pesan akhlak, perbuatan susila, dan budi pekerti. Moralitas dipahami sebagai tindakan sukarela kita, yakni kesadaran hati kita akan kemanusiaan. Bertindak moral berarti bertindak untuk menolong, membantu semata-mata, bukan untuk mencapai tujuan tertentu atau tergerak oleh kecenderungan-kecenderungan emosional. Dengan demikian moral membicarakan tingkah laku manusia atau masyarakat yang dilakukan dengan sadar, dipandang dari sudut baik dan buruk.

Kesimpulan

Kita bersyukur, kreatifitas kesenian di Sumatera Utara telah menunjukkan suatu kemajuan yang signifikan, sehingga tidak perlu khawatir, andaipun ramalan Naisbitt seperti yang dilansir di atas menjadi kenyataan. Kita, dengan gemuruh perkembangan seni, yang saat ini berlangsung tidak hanya di Pekanbaru, tapi juga pada tingkat kabupaten dan kota, sudah memiliki kesiapan secara baik dalam hal penunjukan identitas. Namun demikian, tentu saja gerakan pencarian dan pemantapan harus terus dilakukan, sehingga seni tidak hanya selesai sebagai tanda atau identitas semata, tapi jika bisa, harus sampai pada tahap menjadi diri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra merupakan manifestasi kehidupan jiwa bangsa dari abad ke abad. Di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan kehidupan manusia pada waktu tertentu. Karya sastra merupakan khazanah ilmu pengetahuan dan budaya. Oleh karena itu, penghayatan terhadap karya sastra akan memberikan keseimbangan antara pemerolehan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak dan pembangunan jiwa di pihak lain. Keselarasan keduanya sangat berperan dalam pembangunan manusia. Pertanggungjawaban moral dalam karya sastra adalah sebuah kritikan pengarang terhadap sikap dan sifat buruk seseorang atau masyarakat.

Seperti ungkapan Hang Tuah, “Esa Hilang Dua Terbilang, patah tumbuh hilang berganti,” generasi kepengarangan di bawah Suman HS dan Selasih Seleguri, bermunculan pula sejumlah pengarang terbilang dengan wilayah garapan masing-masing, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM Syamsudin, Hasan Yunus, Idrus Tintin dan lain-lain. Tapi generasi ini miskin penyair perempuan. Semoga ke depan semakin banyak perempuan-perempuan yang mengokohkan dirinya sebagai penguasa kata-kata, yang mengajarkan kepada kita tentang kearifan, kejujuran dan kecerdasan dari generasi ke generasi.(winsa)

Cerpen pujangga

ZUminten Sang Pelayan Seksi

Oleh Mhd Darwinsyah Purba

Maria Mercedes, Maria Cinta yang Hilang, Marimar, semua ia ikuti. Semua ia suka. bahkan Wiro Sableng. ZUminten memang sableng. Genit. Tapi dia seksi, lho.....

Rambutnya Hitam lurus sebahu. Terurai bagaikan kawanan ombak bergulung-gulung menuju bibir pantai, beda-beda dikitlah rambutnya dengan Santi. Kulitnya bersih hitam manis. Bentuk wajahnya tidak lonjong seperti Cinta Laura. Cuma nasibnya beda. ZUminten tidak secantik Luna Maya atau Desy Ratnasari. Juga tentu tidak ngetop dan tidak pula kaya. Tidak begitu pintar seperti mereka-mereka tadi.

Tapi, ZUminten tidak bernasib malang seperti Alda yang meninggal pada usia sangat muda kerena narkoba. Buktinya? Sampai kini ZUminten masih hidup. Segar bugar dan montok, tidak pernah mengidap penyakit serius, tidak ngepil, tak pernah begadang semalam suntuk untuk berdisco-disco di klab malam seperti wanita-wanita zaman edan ini .

Tapi sayang, ZUminten hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Pendidikan formal hanya sampai SD Negeri Impres. Lahir dan besar di desa. Anak pertama dari duabelas bersaudara, dari keluarga petani. Dan, hobinya itu tadi: nonton telenovela dan sinetron.

Tampaknya Fadli salah pilih, begitu pikir istrinya. Tapi bagi Fadli sendiri itu adalah pilihan yang tepat. Cari pembantu pada masa sekarang tidak mudah. ZUminten tidak rewel, masakannya enak, soal cuci baju dan setrika beres rapi dan wangi selain itu itu kalo sedang menyetrika ia sambil nembang soundtrack telenovela “Marimar”. kadang sering ditunda-tunda lantaran ia lebih mementingkan nonton telenovela atau sinetron ketimbang menyelesaikan pekerjaannya, tapi toh pada akhirnya beres juga. Bersih-bersih rumah juga oke. Lantai mengkilap dan harum. Kaca jendela bersih dari debu.

"Tapi, Mas, ZUminten itu genit. Kembalikan saja!! Aku khawatir, jangan-jangan Mas Fadli kepencut sama dia," protes istrinya pada suatu waktu.

Fadli hanya tersenyum kala itu sambil berhayal yang bukan-bukan. Dalam hati ia malah berkata, memang itulah yang kusuka. Itulah pembantu idamanku. Idolaku. Lumayan buat hiburan di kala pikiran sedang suntuk oleh pekerjaan kantor yang menumpuk. Buat cuci mata oke banget he..he…he…..

Suatu hari, ZUminten membaca tabloid Aneka dan ia paling suka baca tabloid itu, lantaran banyak informasi tentang sinetron. Waktu itu Nyonya Fadli sedang pergi arisan, Fadli sedang ke kantor, si kecil puji dan Edo sedang tidur. ZUminten tertarik pada satu informasi di sana. Ia segera mencari pulpen dan secarik kertas, lalu mencatat.

Pada hari berikutnya, setelah ia menerima gaji yang tidak seberapa besar, ZUminten pergi ke studio foto dekat Swalayan Sekalian pergi belanja harian. Nyonya Fadli sempat heran, ZUminten pergi belanja kok pakai pakaian paling bagus yang dia miliki? Pakai make up lagi? ZUminten cuek saja! namanya juga usaha.

Nah, sejak saat itu ia sering pergi-pergi. Tak tahu ke mana tujuannya. Fadli terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Istrinya sering uring-uringan lantaran ulah ZUminten yang makin neyebalkan. Jika ditanya, ZUminten hanya menjawab: bisnis bu! Bisnis bu?

"ZUminten, pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Wati, istri Fadli yang kini sudah berusia 40-an plus gendut.

"Sudah, Bu." ZUminten mengangguk.

"Cuci pakaian?"

"Sudah. Sterika juga sudah. Masak sudah," jawab ZUminten dengan semangat 45.

"Lantas kamu mau ke mana?" selidik Wati dengan sedikit curiga.

"Bisnis," jawab ZUminten tanpa ekspresi.

"Bisnis apaan, Yu?" Wati melotot heran.

"Kamu di sini digaji sebagai pembantu. Malah nyambi bisnis. Bisnis apaan sih?" lanjut Wati semakin curiga.

"Lho, pokoknya pekerjaan saya kan sudah selesai. Hanya sebentar kok, Bu! ntar sore saya sudah sampai di rumah." ZUminten ngotot memperjuangkan little misi-nya.

"Kamu mulai macam-macam, ya. Kalau ada apa-apa risikonya kamu tanggung sendiri saya tidak mau tahu."

"Ini bisnis 100 % halal, lho, Bu! hitung-hitung cari tambahan untuk si mbok di kampung"

"Ya, sudah, bisnis sana." sedikit kesal dan tidak peduli.

Nah, itulah pada mulanya. Seminggu ZUminten pergi "bisnis" bisa tiga empat kali dalam sehari. Wati kian kesal. Tapi ZUminten ngeyel. Herannya lagi ZUminten sering dapat telepon dari seseorang yang mengaku bernama Bonar. Wah, ZUminten pacaran sama Bonar mungkin. Ini berbahaya, pikir Wati. Kalau terjadi sesuatu, misalnya hamil, aku bisa dipersalahkan oleh keluarganya.

Hingga pada suatu ketika ... terjadilah sebuah kejutan.

Jam dinding menunjuk pukul 07.30 WIB. Fadli dan istrinya duduk-duduk santai di ruang tengah sambil membaca-baca Koran dan majalah. puji dan Edo main mobil-mobilan di lantai. Dan, ZUminten duduk di lantai, dekat anak-anak majikannya, sambil deg-degan menantikan sebuah sinetron baru yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.

Lagu soundtrack mengalun. Di layar televisi muncul judul sinetron: Cinta di Rumah Kos. Paduan animasi pengantar awal sebuah sinetron. Bintang-bintang utama tampil. Lalu sekilas pemain pembantu. ZUminten berkeringat, walau ruangan itu dingin oleh AC. Sekilas wajahnya tampil. Hatinya berbunga-bunga. Senang, gembira, bangga, dan sebagainya. Fadli dan Wati tak memperhatikan.

Episode pertama dimulai. Fadli dan Wati meletakkan majalah di tangannya. Mereka mengalihkan perhatian ke televisi, meski masih setengah-setengah. Sebuah adegan: di sebuah rumah mewah seorang laki-laki berusia 50 tahun duduk di kursi. Seorang pembantu dengan genit memijit-mijit bahu dan punggung lelaki itu.

"ZUminten, pijit yang ini. Agak keras. Nah, begitu," kata lelaki itu.

"Saya ini pembantu multibisa, lho. Tuan? Bisa masak juga bisa mijit. Mau dipijit yang mana? Jempolnya atau kelingkingnya? Pijit halus bisa, pijit kasar bisa, pakai alat juga bisa," ujar pembantu yang diperankan oleh ZUminten.

"ZUminten!" seru Fadli dan Wati sambil terpana. "Itu kamu, ya?"

"Iya," jawab ZUminten tersipu malu-malu kucing.

"Kamu main sinetron?" Wati hampir tak percaya dan bercampur syirik.

"Iya, Bu. Untuk nambah-nambah penghasilan buat si Mbok di kampung," jawab ZUminten.

"Jadi itu yang kamu namakan bisnis itu?" lanjut Wati.

"Inggih, Bu!!"

"Astaga, ZUminten," timpal Fadli.

"Tak kusangka kamu bisa main sinetron. Waduh…!!, Waduh…!! Sejak kapan?"

"Baru kali ini."

Mereka pun lalu menyaksikan sinetron di televisi itu dengan penuh perhatian, sambil sesekali berkomentar pendek tentang permaianan ZUminten. Tentu berbagai macam perasaan berbaur di hati ZUminten, Fadli, dan Wati. Sampai akhirnya episode pertama usai. Acara di televisi berganti dengan kuis 1 Miliar yang di bawakan oleh Nico sihahan.

"Luar biasa. Tak kusangka-sangka kalau kamu bisa main sinetron. Gimana awalnya, Yu?" tanya Fadli masih dengan keheranannya.

"Saya kirim lamaran lengkap dengan foto. Itu, yang di majalah Aneka: dibutuhkan beberapa figuran untuk sinetron. Tak tahunya saya dipanggil. Lalu tes. Saya diterima jadi figuran. Peran pembantu rumah tangga yang genit dan konyol," tutur ZUminten bangga.

"Kata sutradaranya, saya pas dengan peran itu."

Fadli dan Wati geleng-geleng kepala kagum bercampur tidak percaya.

"Ya, saya mau bilang sama tuan dan nyoya. Karna saya sibuk syuting, maka dengan terpaksa saya mengundurkan diri sebagai pembantu di sini. Saya jadi pemeran pembantu rumah tangga di sinetron saja," ungkap ZUminten.

"Maafkan saya, jika nasib saya harus berubah. Mulai besok saya pindah. Saya mau kos di dekat lokasi syuting."

"ZUminten ... ZUminten, nasibmu memang harus berubah," komentar Fadli.

"Kamu cantik, manis, kulitmu bersih, rambutmu panjang, wajahmu bulat apalagi body kamu HmmMMh...."

"Eh, pakai muji-muji segala," tukas istrinya.

"Cemburu, ya?" Fadli meledek.

"Ya, tentu dong!!!." Sang istri sewot seperti kebakaran jenggot.

"Dengar dulu, ini mungkin untuk yang terakhir kali aku menasihati ZUminten," kata Fadli. Lalu ia pun melanjutkan, "Tubuhmu tinggi semampai. Kamu memang tidak pantas jadi pembantu rumah tangga. Kamu lebih pantas jadi artis sinetron. Figuran tak jadi soal. Lama-lama kamu bisa jadi pemeran utama. Aku doakan, semoga kamu jadi artis top kelak. Tapi jangan lupa sama kita di sini. Sering-seringlah main kemari. Anggaplah ini rumahmu juga."

"Apa-apaan? Justru kalau sudah top jangan kemari, pasti sombong, pasti nggak mau kenal kita lagi, kan uda jadi artis?!," potong Wati dengan nada yang tidak menentu.

"Lagi-lagi cemburu," komentar Fadli.

"Oh, iya, Yu, aku boleh main ke tempatmu, kan?"

"Nah, makin genit, ya!" istri Fadli kian jengkel melihat tingkah suminya yang mulai ganjen.

ZUminten pun berakting. Ia berdiri dan menghampiri Fadli. Dengan genit ia memijit-mijit bahu Fadli sambil berkata,

"Saya pembantu yang multifungsi, lho. Bisa masak, bisa mijit. Tuan pingin saya pijit apanya. Jempol atau kelingking atau yang lain nggak masalah. mau yang halus atau yang kasar?"

"ZUminten.....!!!!" bentak Wati kesalnya minta ampun dan jengkel, Wati mencubit lengan ZUminten seraya ia ingin menerkam pembantunya itu.

Fadli tertawa terbahak-bahak.

Yah, pembantu idamanku harus pergi dari rumah ini. Ah, ZUminten memang cantik dan seksi, bisik Fadli dalam hati.

Hamzah al-Fansuri Sang Penyair dan sufi agung

Oleh Mhd Darwinsyah Purba, S.Sos

SYEIKH Hamzah al-Fansuri telah banyak dibicarakan orang, namun tidak dapat dinafikan perkara-perkara baru sentiasa ditemui oleh para peneliti. Gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dipastikan sebagai gambar imajinasi, karena pada zaman beliau memang belum ada kamera. Sebenarnya ia berlaku bukan pada Syeikh Hamzah al-Fansuri saja, tetapi juga terjadi pada ulama-ulama lainnya, termasuk Imam al-Ghazali, Syeikh 'Abdul Qadir al-Jilani, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Wali songo dan lain-lain. Sungguh pun dipastikan gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri adalah gambar imajinasi, namun dalam artikel ini disiarkan juga dan ia merupakan pertama kali disiarkan dalam media cetak secara meluas.

Hampir semua pengkaji yang membicarakan tokoh ulama ini pada zaman modern, selalu merujuk kepada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas. Barangkali dunia memang mengakui bahawa beliaulah orang yang paling banyak memperkenalkan Syeikh Hamzah al-Fansuri ke peringkat antarabangsa. Walau bagaimanapun apabila kita membaca keseluruhan karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas yang membicarakan Syeikh Hamzah al-Fansuri, bukanlah bererti kita tidak perlu mentelaah karya-karya lain lagi, kerana apabila kita mentelaah karya-karya selainnya, terutama sekali yang masih berupa manuskrip, tentu sedikit sebanyak kita akan menemukan perkara-perkara baru yang belum dibicarakan. Karya terkini tentang Syeikh Hamzah al-Fansuri ialah buku yang diberi judul “Tasawuf Yang Tertindas” Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Buku setebal 444 halaman itu dikarang oleh Dr. Abdul Hadi W.M. dan terbitan pertama oleh Penerbit Paramadina, Jakarta, 2001. Sama ada karya-karya Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas mahupun karya Dr. Abdul Hadi W.M., sedikit pun tiada menyentuh gambar Syeikh Hamzah al-Fansuri seperti yang tersebut di atas.

Asal-usul dan pendidikan
Prof. A. Hasymi pada penyelidikannya yang lebih awal bertentangan dengan hasil penyelidikannya yang terakhir. Penyelidikan awal, ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri nampaknya tidak ada hubungan adik beradik dengan ayah Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan terakhir beliau mengatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri itu adalah adik beradik dengan Syeikh Ali al-Fansuri. Syeikh Ali al-Fansuri adalah ayah kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri. Penyelidikan awal yang saya maksudkan ialah yang ditulis oleh Prof. A. Hasymi dalam Ruba'i Hamzah Fansuri yang dapat diambil pengertian daripada kalimatnya, "Ayah Hamzah pindah dari Fansur (Singkel) ke Barus untuk mengajar, kerana beliau juga seorang ulama besar, seperti halnya ayah Syeikh Abdur Rauf Fansuri yang juga ulama, sama-sama berasal dari Fansur (Singkel)" (terbitan DBP, 1976, hlm. 11).

Mengenai penyelidikan Prof. A. Hasymi yang menyebut Syeikh Hamzah al-Fansuri saudara Syeikh Ali al-Fansuri atau Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri adalah anak saudara kepada Syeikh Hamzah al-Fansuri, dapat dirujuk kepada kata pengantar buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh karya Abdul Hadi W.M. Dan L. K. Ara, diterbitkan oleh Penerbit Lotkala, tanpa menyebut tempat dan tarikh. Walaupun Prof. A. Hasymi belum memberikan suatu pernyataan tegas bahawa beliau memasukkan tulisannya yang disebut dalam Ruba'i Hamzah Fansuri, namun kita terpaksa memakai penyelidikan terakhir seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya, “Jaringan Ulama” mengatakan bahawa beliau tidak yakin bahawa Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu benar-benar keponakan (anak saudara) Syeikh Hamzah al-Fansuri. "Sebab, menurutnya, tidak ada sumber lain yang mendukung hal itu." Bagi saya ia masih boleh dibicarakan dan perlu penelitian yang lebih sempurna dan berkesinambungan. Sebab yang dinamakan sumber pendukung sesuatu pendapat, bukan hanya berdasarkan tulisan tetapi termasuklah cerita yang mutawatir. Kemungkinan Prof. A. Hasymi yang berasal dari Aceh itu lebih banyak mendapatkan cerita yang mutawatir berbanding penelitian barat yang banyak disebut oleh Azra. Diterima atau tidak oleh pengkaji selain beliau, terpulanglah ijtihad masing-masing orang yang berkenaan.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syeikh Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda ternyata juga ada perubahan daripada tulisan beliau yang termaktub dalam Ruba'i Hamzah Fansuri selengkapnya, "Hanya yang sudah pasti, bahawa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M)." Yang dimaksudkan dengan "ternyata juga ada perubahan," ialah pada kalimat, "sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda," menjadi kalimat "akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda."

Tarikh lahir Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat belum dapat dipastikan, adapun tempat kelahirannya ada yang menyebut Barus atau Fansur. Disebut lebih terperinci oleh Prof. A. Hasymi bahawa Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkel dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan). Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bahagian Aceh Selatan. Pendapat lain menyebut bahawa beliau dilahirkan di Syahrun Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus.

Drs. Abdur Rahman al-Ahmadi dalam kertas kerjanya menyebut bahawa ayah Syeikh Hamzah al-Fansuri bernama Syeikh Ismail Aceh bersama Wan Ismail dan Po Rome atau Po Ibrahim (1637- 1687 M) meninggal dunia dalam pertempuran melawan orang Yuwun (Annam) di Phanrang. Bahawa Syeikh Ismail Aceh itu pernah menjadi gabenor di Kota Sri Banoi menggantikan Gubernur Wan Ismail asal Patani yang melepaskan jabatan itu kerana usianya yang lanjut. Drs. Abdur Rahman Al-Ahmadi berpendapat baru, dengan menambah Syahrun Nawi itu di Sri Banoi Sri Vini, selain yang telah disebutkan oleh ramai penulis bahawa Syahrun Nawi adalah di Siam atau Aceh. Dalam Patani, yaitu antara perjalanan dari Patani ke Senggora memang terdapat satu kampung yang dinamakan Nawi, berkemungkinan dari kampung itulah yang dimaksudkan seperti yang termaktub dalam syair Syeikh Hamzah al-Fansuri yang menyebut nama Syahrun Nawi itu. Kampung Nawi di Patani itu barangkali nama asalnya memang Syahrun Nawi, lalu telah diubah oleh Siam hingga bernama Nawi saja. Syahrun Nawi adalah di Patani masih boleh diambil kira, kerana pada zaman dulu Patani dan sekitarnya adalah suatu kawasan yang memang ramai ulamanya. Saya telah sampai ke kampung tersebut (1992), berkali-kali kerana mencari manuskrip lama. Beberapa buah manuskrip memang saya peroleh di kampung itu. Lagi pula antara Aceh dan Patani sejak lama memang ada hubungan yang erat sekali. Walau bagaimanapun Prof. A. Hasymi menyebut bahawa Syahrun Nawi itu adalah nama dari Aceh sebagai peringatan bagi seorang Pangeran dari Siam yang datang ke Aceh pada masa silam yang bernama Syahir Nuwi, yang membangun Aceh pada zaman sebelum Islam.

Daripada berbagai-bagai sumber disebutkan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai-bagai ilmu yang memakan masa lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara ke pelbagai tempat, di antaranya ke Banten (Jawa Barat), bahkan sumber yang lain menyebut bahawa beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Arab. Dikatakan bahawa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-ilmu fikah, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastra dan lain-lain. Dalam bidang bahasa pula beliau menguasai dengan kemas seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasa itu, ia juga dapat berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

Karya-karyanya
Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat digolongkan kepada peringkat awal dalam menghasilkan karya puisi/sastra dalam bahasa Melayu, sangat menonjol terutama sekali dalam sektor sufi. kemasyurannya kerana terjadi kontroversi yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengannya yang dimulai dengan karya-karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri, berlanjutan terus hingga sampai ke hari ini karya-karya Syeikh Hamzah al-Fansuri selalu dibicarakan dalam forum-forum ilmiah. Di bawah ini coba menyenaraikan karya beliau yang telah diketahui, yaitu:
1). Syarb al- 'Asyiqin atau Zinatul Muwahhidin.
2). Asrar al-'Arifin fi Bayan 'Ilm as-Suluk wa at-Tauhid.
3). Al-Muntahi. 4). Ruba'i Hamzah Fansuri.
5). Kasyf Sirri Tajalli ash-Shibyan.
6). Kitab fi Bayani Ma'rifah.
7). Syair Si Burung Pingai.
8). Syair Si Burung Pungguk.
9). Syair Sidang Faqir. 1
0). Syair Dagang. 11). Syair Perahu.
12). Syair Ikan Tongkol.

Keterangan lengkap mengenai data karya Syeikh Hamzah al-Fansuri dapat dirujuk dalam buku yang berjudul Al-Ma'rifah Pelbagai Aspek Tasawuf Nusantara, jilid 1. Senarai yang tersebut di atas merupakan maklumat yang terlengkap buat sementara dan akan ditambah lagi jika terdapat maklumat baru yang belum termuat dalam senarai di atas. Mengakhiri artikel ini di sini perlu dijelaskan bahawa makam Syeikh Hamzah al-Fansuri telah ditemui sebagaimana ditulis oleh Dada Meuraxa: "Di satu kampung yang bernama Obor terletak di hulu Sungai Singkil, terdapat makam ulama dan pujangga Hamzah Fansuri. Makam itu bertulis: Inilah makam Hamzah Fansuri Mursit Syeikh Abdurrauf = Hamzah Fansuri guru Syeikh Abdur Rauf."

Mengenai tahun wafat Syeikh Hamzah al-Fansuri secara tepat selama ini tidak pernah disebut. Tetapi Azra dalam Jaringan Ulama menyebut bahawa ulama sufi itu wafat pada tahun 1016 H/1607 M. Disebutkan tahunnya itu disekalikannya membantah bahawa Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri (Al-Sinkili, menurut istilahnya) "tidak mungkin bertemu dengan ulama sufi itu", menurutnya "Al-Sinkili bahkan belum lahir". Seolah-olah Azra menolak mentah-mentah tahun kelahiran Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri yang disebut oleh A. Hasymi tahun 1001 H/1592 M itu, kemungkinan dia berpegang pada tahun kelahiran 1024 H/1615 M, atau pendapat lain 1620 M, sedangkan tahun kewafatan Syeikh Hamzah al-Fansuri yang disebutnya 1016 H/1607 M itu belum juga tentu betul. Wallahu a'lam.

Penutup
Pada zaman kita selain orang yang suka kepada keaslian, sebaliknya sangat ramai yang suka kepada sesuatu yang bercorak tiruan. Bunga tiruan lebih mendapat pasaran daripada bunga yang asli. Ramai yang menyanggah ilmu yang bercorak rohani, kerana terpengaruh dengan persekitaran yang bercorak fantasi. Pembangunan fisikal lebih meluas dibicarakan berbanding pembinaan iman dan makrifat.

Cerpen pujangga

Kartini Oh... Kartini

Oleh Mhd Darwinsyah Purba

Taksi berwarna hijau mendekati mulut gang yang menuju ke rumah kontrakannya, memang bukan taksi langganannya karena beberapa minggu ini selalu pulang subuh, taksi langanannya tidak narik sampai sepagi itu karena alasan keluarga dan kesehatan.

“Stop!!! Stop!!! Stop!!! di sini saja, Mas !??”

“Lho, kok tidak sampai ke depan rumah, neng??” tanya supir taksi dengan gelagat penuh hasrat.

“Lihat, dong! pukul berapa sekarang!!! Suara taksi ini kayaknya motor boat ini akan mengganggu tidur orang-orang, tahu?!? Bisa-bisa mas nanti digebuki orang se-RT baru tau!??”

“Ah.., neng!? bisa aja!?” kata supir taksi tersebut, dengan nada menggoda dan sambil memain-mainkan rem, menyebabkan Kartini terguncang-guncang dengan maksud hati mencari kesempatan dan sedikit iseng.

“Hey, hati-hati Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, ya???” kata Kartini sewot, sambil mata teduhnya melotot seperti srigala betina.

“Kan yang sempit-sempit itu justru katanya asyik, neng!?” sahut supir sambil cengengesan dan mencolek-colek pinggang seksi Kartini.

“Sialan kamu!!! Dasar supir taksi idiot...!? Keluar dari taksi sambil membanting pintunya.

Detik demi detik berlalu mendekati ba’da subuh, ketika Kartini mulai menjejaki lorong yang menuju rumah kontrakannya itu, beberapa ratus meter. Lampu mercuri seratus watt menerangi Sepanjang gang itu, membuatnya nampak terang benderang. Tetapi di sekeliling terlihat sunyi senyap seperti di areal pemakaman cina, sehingga suara sepatu Kartini terdengar jelas berketepok ketika menyentuh betonan gang mirip suara ladam.

Para warga pasti sudah terbuai mimpi-mimpi indah dan ternyenyak oleh suasana subuh hari yang sangat sejuk. Hanya di warung rokok Mas Agus terus terlihat geliat kesibukan karena ia satu-satunya warung yang buka 24 jam di kawasan ini. Sementara dari mesjid, mushalla ataupun langgar, sayup-sayup azand terdengar bersahut-sahutan mengisi seantero angkasaraya. Sertamerta rasa ngantuk mulai menghampiri kedua kelopak matanya yang sendu, betapa lelah dan mengantuknya dia. Perasaan yang tadi-tadi berhasil dibendung dan dapat diatasinya, karena tentunya bukan sikap yang bertanggung jawab dan profesional, ia tidak mau nampak lelah dan mengantuk di hadapan pelanggan yang harus di-service-nya sepuasnya.

Apalagi kalau pelanggan itu adalah seseorang yang istimewa, seperti Teuku Ryan itu. Dan dengan begitu saja, sebuah senyum samar-samar muncul di bibir Kartini. Dia tepuk tas yang tergantung di bahunya. Serasa-rasa dapat disentuhnya uang sejuta rupiah yang ada di dalam tas itu. Limaratus ribu adalah imbalan jasa pelayanannya plus poding yang dia dapat dari Teuku Ryan. Dia memang sangat memerlukan uang itu.

Rembang petang itu. Ketika dia siap berangkat ke karaoke tempatnya biasa mangkal Wiwin, puteri tunggalnya, bilang dengan suara seperti merajuk.

Ma!! Wiwin kan sudah harus bayar biaya study tour yang ke Penang itu. Temen-temen yang sudah pada bayar semua. Wiwin kapan, Ma? Jangan-jangan nanti-nanti, telat lagi, Ma!?. Wiwin jadinya tidak bisa ikut, dong!! Kalau gitu, gimana, Ma! Wiwin kan jadi malu sama temen-temen di sekolah..............................

Sejenak ia terpaku seperti gunung-gunung di tangah malam. problemnya, ia memang belum dapat memperkirakan, kapankah kebutuhan Wiwin itu dapat dipenuhinya kerena ia harus memenuhi kebutuhan anak perempuan satu-satunya itu seorang diri di mana ayah dari putrinya menghilang tanpa bekas alias kabur dan kawin lagi dengan perempuan lain.

Satu juta bukanlah jumlah yang kecil. Secara matematis, itu berarti paling sedikit dua kali kencan dalam semalam, dua kali memberi pelayanan kepada pelanggan. Tetapi, betapa pun juga, dia amat menyayangi Wiwin. Puterinya yang sedang duduk di kelas satu SMA yang ternama di kota Medan. Dia adalah satu-satunya miliknya yang paling berharga dalam hidupnya ini. Dia selalu siap melakukan apa saja demi anaknya itu. Apa pun rela dia korbankan asalkan anaknya tetap bersekolah. Agar tidak mengikuti jejaknya sebagai kupu-kupu malam kelak.......

Dan itu sudah dia lakukan sejak dia mengandung Wiwin, akibat kecelakaan Dengan seorang pria yang tidak bertanggung jawab ya.. habis manis sepah di buang. Sampai kemudian Wiwin lahir dan langsung harus dihidupinya secara mandiri dan nenek wiwin tidak mau mengakui wiwin itu cucunya katanya anak haram. Dan ia dikucilkan oleh keluarga besarnya. Bukan kepalang beratnya perjuangan yang harus dia hadapi. Seorang perempuan memang bisa dapat menjadi seorang Ibu dan Bapak tetapi belum tentu seorang laki-laki bisa merangkap keduanya.

Seandainya hidup bisa memilih. Apalah daya dan upaya bagi seorang Kartini, yang dapat ia lakukan dari seorang perempuan yang tidak memiliki bekal ilmu pengetahuan selain “menjual dirinya”. Demi Wiwin ia rela mengorbankan segalanya. Seperti sekarang ini, ia mendamparkan diri ke lingkungan kehidupan karaoke, menjadi wanita penghibur plus kupu-kupu malam.

“Jangan pesimis begitu, dong!!! Sayang...! Mama akan usahakan, ya Malam ini juga. Mudah-mudahan berhasil. Dan besok kamu sudah bisa bayar biaya study tour kamu itu. Oke!!??” sambil mencium anak kesayanganya itu dengan penuh harapan dan cinta kasih.

Detik itu juga, segera terbayang di mata bathinnya wajah Teuku Ryan. Sudah tiga tahun ini dia mengenal laki-laki itu dan berhasil menjadikannya sebagai pelanggan tetap. Dan itu sangat berarti bagi kehidupan ekonomi rumah tangga ini.

Teuku Ryan itu seorang pengusaha biro perjalanan. termasuk menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah di Medan dan di Banda Aceh yang sukses dan tidak terlalu panjang pertimbangan terhadap uang yang dikeluarkannya. Usianya pasti sudah lewat setengah abad, tetapi penampilannya masih tetap gagah dan menawan, sangat macho mMMh... Dan potensinya sebagai laki-laki, masih jauh di atas kebanyakan laki-laki yang pernah diladeni Kartini. Perlakuan Teuku Ryan terhadap dirinya pun sangat berbeda. Beliau sangat romantis dan penuh gairah serta sangat menawan kelelakian seseorang.

Kalau para pelanggannya yang lain cuma menganggap dirinya semata-mata sebagai obyek pelampiasan nafsu gila belaka, tidak demikian halnya dengan Teuku Ryan. Perlakuannya begitu lembut, begitu santun. Kadangkala bahkan bagai perlakuan seorang laki-laki terhadap kekasih tercinta. Mungkin karena, Kamu selalu mengingatkan aku pada kekasihku yang pertama. Kamu hampir-hampir bagai kembaran dari dirinya. Bibirmu yang sensual, matamu yang liar menantang, profil wajahmu yang Jawani, sungguh, semua merupakan bagian dari dirinya.

Kamu tahu, setiap aku menikmati kebersamaan denganmu, aku selalu merasa berada lagi pada masa laluku. Sayang, semuanya harus berakhir dalam kenyataan yang pahit. Keluarganya tidak merestui, dengan alasan yang sampai sekarang pun tak pernah kuketahui. Hubungan kami diputuskan dengan paksa. Dia dikawinkan dengan orang lain, walau dalam rahimnya sudah kusemaikan bibitku. Rencana kami, ini akan kami jadikan senjata untuk melakukan fait accompli. Ternyata gagal. Semua berantakan. Dan diakhiri dengan tragedi. Belum seminggu usia kawin paksa itu, mayat kekasihku itu ditemukan mengambang di kali sungai deli.

Pernah sekali waktu Kartini membiarkan dirinya berangan-angan, bagaimana kalau tiba-tiba Teuku Ryan mengajaknya kawin. Serasa-rasa dia mendengar laki-laki itu berkata? Aku selalu merasa kesepian, Empat anakku sudah mandiri, sudah membina rumah tangga dengan keluarganya masing-masing. Hanya aku dan isteriku yang tinggal di rumah sebesar itu. Dan kamu tahu, isteriku sudah tua, sudah lama dia memasuki masa menopause. Lebih dari itu, tubuhnya kemayuh, karena pernah mendapat serangan stroke. Bagiku, sebagai laki-laki, isteriku itu sebetulnya sudah tidak punya guna lagi.

Aku masih membutuhkan perempuan yang potensial, yang masih segar, yang masih menggebu-gebu. Seperti kamu… Kartini. Karena itu, maukah kamu kawin denganku? Tolonglah, ni panggilan kesayangannya, bebaskan aku dari siksaan kesepian lahir batin ini. Namun Kartini akhirnya hanya bisa menertawakan dirinya sendiri secara habis-habisan karena angan-angannya itu. Walau memang benar isteri Teuku Ryan sudah tua dan lumpuh dan anak-anaknya sudah mandiri semua, tetapi jelas dia belum cukup gila untuk meminta Kartini kawin dengannya.

Kedudukan sosial Teuku Ryan yang begitu tinggi dan terhormat di kalangan masyarakat Aceh, ia dari golongan bangsawan. pasti nama baik keluarga dan leluhurnya akan tercemar, kalau dia sampai nekat mengawini perempuan semacam Kartini, seorang perempuan sewaan di karaoke, yang hidup dari pelukan lelaki hidung belang. Kartini sudah merasa cukup memadai, karena hubungannya dengan Teuku Ryan makin bersifat pribadi. Tidak sekadar hubungan antara seorang pelanggan dengan langganannya semata. Banyak masalah yang dihadapinya, terutama yang berkenaan dengan masalah keuangan, dapat terpecahkan atau terselesaikan, berkat uluran tangan Teuku Ryan. Ia seperti malaikat yang turun dari langit bagi keluarga kami.

Seperti halnya biaya study tour Wiwin itu. Dengan terus terang, dia kemukakan soal itu kepada Teuku Ryan, terutama kemungkinan gagalnya Wiwin ikut serta, kalau tidak segera membayar. Laki-laki paroh baya itu hanya mengangguk-angguk, tanda maklum. Lalu disodorkanya uang yang satu juta limaratus ribu itu.

“Pakailah ini!?” Tak disebut-sebutnya sama sekali, kapan uang itu harus dikembalikan. Tak terbendung begitu besarnya rasa syukur Kartini menerima uang tersebut dengan membayangkan wajah nerseri putri satu-satunya wiwin.

Malam ini Tuhan telah melimpahkan Rahman dan Rahim-Nya kepada seorang makhluk pendosa semacam dirinya ini. Sambil melangkah terus di gang berbeton itu, berkali-kali Kartini menyentuh tasnya. Seperti kurang yakin dia, kalau tas itu masih tetap tersandang di bahunya. Dia bayangkan, betapa akan senangnya Wiwin nanti. Puterinya itu tak perlu lagi mencemaskan kegagalan perjalanannya bersama teman-temannya yang lain. Tetapi tiba-tiba Kartini terperangah.

Sekira Pukul 4:30 WIB pada malam akihr cerita berikutnya........
Di depan rumah kontrakannya, dia melihat kerumunan orang. Seketika itu juga dia mempercepat langkah, malah setengah berlari.

“Ada apa ini?!? Ada apa?!??” Rasa bingung bercampur was-was ada apa gerangan yang terjadi di rumahnya?

serunya panik, seraya berusaha menembus kerumunan itu. Orang-orang memang memberinya jalan, hingga dia segera dapat memasuki rumahnya. Dan di ruang tamu, dia tertegun panjang menatap sekeliling ruangan. Di situ sudah ada Ketua RT, Nazir Masjid dan beberapa orang Hansip. Dan di sofa itu, ya, Tuhan, duduklah Wiwin. Anak itu hanya berpakaian sekadar menutupi tubuh. Dan di sisinya, cuma berpakaian celana dalam, duduklah Budi, cowok tajir yang kuliah di Universitas ternama di Medan. Tentang Budi ini, Wiwin pernah cerita banyak tentang anak muda itu, Dia anak orang yang kaya, bapaknya seorang anggota DPR. Mobilnya lima, 3 kijang dan dua lagi BMW di garasinya yang rumahnya seperti istana kerajaan dan di jaga 3 orang security ditambah 2 anjing penjaga. Ya hasil korupsilah....

Nanar Kartini menatapi orang-orang yang hadir di ruang tamunya itu. Ketua RT membalas tatapannya dengan pandangan mengandung rasa kasihan dan penuh iba. Nazir Masjid, yang selama ini memang tak pernah merasa perlu mengenalnya, tersenyum miring bercampur sinis seperti mencium bangkai tikus. Dan para Hansip itu, jelas mereka nampak salah tingkah dan sedikit kikuk karena Kartini sering sekali beri tips kepada mereka, kalau kebetulan kepergok saat dia pulang mencari nafkah.

“Bu Kartini dapat membayangkan sendiri, apa yang kira-kira sudah terjadi malam ini di rumah ibu” Terdengar suara Ketua RT, tidak dengan tekanan darah militer, tetapi nada kecewa namun begitu sangat wibawa dan nada teratur.

“ini merupakan akumulasi dari banyak kejadian sebelumnya. Sebegitu jauh, warga sebetulnya mencoba tidak usil. Kami menganggap, Wiwin semata-mata korban dari contoh yang tidak baik. Tidak adil kalau dia saja yang harus menerima akibatnya”. Cetus beberepa warga dari balik tubuh ketua RT

“Selama kami hanya membiarkan. Tetapi, malam ini, mereka sudah melakukan sesuatu perbutan itu. Dan itu tidak bisa didiamkan lagi. Mereka harus ditindak?” beberapa warga menambahkan komentarnya. Bertubi-tubi.

“Memang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” selinting warga yang tidak suka terhadap mereka, tidak lain dan tidak bukan orang-orang sok suci yang turun dari nereka yaitu penggosip-penggosip kelas kakap yang senang berceramah di warung-warung seperti beo-beonya fir’aun.

Tetapi Kartini tidak menhiraukan ocehan tersebut, ia hanya menatap Wiwin dengan pandangan kosong. Anak itu bangkit dari duduknya, lalu menubruk tubuh Kartini dan memeluknya erat-erat. Terdengar suara tangisnya yang lirih, tetapi sarat dengan tekanan duka. kegalauan yang temat dalam dikalbu Kartini seperti gemuruh di siang bolong yang menyayat-nyayat langit. Betapa tidak, ia bekerja keras untuk anaknya satu-satunya tersebut agar tidak mengikuti jejak kotornya malah anaknya menambah aib di tempat mereka berteduh dari panas dan hujan, Perlahan-lahan dia kehilangan penguasaan atas dirinya. Perlahan-lahan tubuhnya terkulai lemas ke lantai tak sadarkan diri tidak lagi mampu menahan beban yang ia pikul selama ini. Kerja kerasnya selama ini bukan sia-sia saja malah mendapat malu.

Ma!!.. Ma!!! diiringi tangisan wiwin yang terhalang menikmati syurga dunia bersama budi sang kekasihnya itu karena kepergok oleh warga. Terus memanggil-manggil ibunya yang pingsan dalam kekecewaan hidup.

Satu demi satu warga RT tersebut meninggalkan mereka dalam suasana yang tidak dapat dilukiskan oleh manapun.

“Kartini Oh.. Kartini, mbok ambe anake podo wae, piye iku??? Jenenge wae Kartini kayak jeneng pejuang zaman londo tapi lakoni ora..... dasar edan-edan...!!!!!”

bisik ibu-ibu yang tengah menyaksikan dagelan hidup yang begitu sulit dimengerti oleh insan tuhan yang menjalaninya. Ada yang menghujat, menghina dan ada yang iba melihat dua orang perempuan antara anak dan ibu yang sedang melakoni kenyataan hidup yang penuh teka-teki.

Peranan Politik Mahasiswa dalam Pilkada

WASPADA ONLINE
Oleh Mhd Darwisyah Purba, S.sos


Pada lembaran sejarah, peranan mahasiswa selalu menghiasi prosesi penyelenggaran kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sebut saja, awal kebangkitan nasional (1908), sumpah pemuda ‘persatuan nusantara’ (1928), mempersembahkan kemerdekaan (1945), menumbangkan Orde Lama (1966), menolak intervensi asing (1974), mengapungkan wacana regenerasi kepemimpinan (1978), menggulingkan Orde Baru (1998) dan partisipasi dalam pemilu demokratis (2004).

Begitu besar peran dan partisipasi mahasiswa dalam mendorong sebuah perubahan besar, Jenderal AH Nasution sampai mengatakan, “kalau tak ada mahasiswa tak ada proklamasi dan takkan ada proklamasi”. Mahasiswa dan permasalahan bangsa tak dapat dipisahkan.

Mahasiswa menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), susunan W.J.S Poerwadarminta adalah pelajar perguruan tinggi; student. Sedangkan menurut S. Parlin Tobing, Kasi Pendidikan dan Penerangan RRI Nusantara I; “Mahasiswa dalam pengertian sederhana adalah pelajar perguruan tinggi. Dunia perguruan tinggi adalah merupakan dunianya mahasiswa tetapi lebih jauh, mahasiswa dalam pengertiaannya adalah kelompok manusia penganalisa yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan penalaran individual. Sedangkan perguruan tinggi yang mendidik mahasiswa melalui pendidikan moral yang terakhir bertanggung jawab untuk mendidik kader-kader pembangunan.

Karena mahasiswa merupakan objek dan subjek dalam proses pembinaan daya penalaran, maka mahasiswa harus ditinjau dari beberapa segi yaitu: Mahasiswa ditinjau dari segi politik adalah para mahasiswa ada yang beranggapan, bahwa mereka merasa bertanggung jawab atas kelancaran jalannya pemerintahan dan keselamatan masyarakat. Karena merasa ikut dalam kegiatan politik, yang katanya sebagai pelaksana social control (kontrol sosial).

Menurut David Easton dalam bukunya yang berjudul The Political System mengatakan bahwa, “kehidupan politik mencakup berbagai macam kegiatan yang mempengaruhi kebijaksanaan dari pihak yang berwenang, yang diterima oleh masyarakat dan mempengaruhi cara untuk melaksanakan kebijaksanaan itu”.

Easton menambahkan bahwa: “kita berpartisipasi dalam kehidupan politik jika aktivitas kita ada hubungannya dengan pembuatan dan kebijaksanaan untuk suatu masyarakat”. Dalam hubungan dengan itu, sejenak kita perlu menoleh ke masa lampau. Pada zaman Orde Lama mahasiswa pernah dijadikan Pressure group oleh interest group, mahasiswa dijadiakan kelompok penekan; bukan untuk memperjuangkan kepentingan mahasiswa, melainkan ditunggangi untuk kepentingan dan keuntungan kaum interest tadi.

Kedudukan mahasiswa di masyarakat sebagai kelompok pemuda intelektual yang murni dan berani dengan cara yang luwes telah diseret untuk berpartisipasi dalam arena politik. Mahasiswa telah menjadi rebutan kaum interest group yang begitu banyak, ada memang diantara mahasiswa yang kebetulan mempunyai jiwa kepemimpinan, terpukau oleh gerakan politik. Ditinggalkanlah dunia kemahasiswaan, lalu menceburkan diri ke dalam dunia politik, kemudian, ketika ia memperoleh kedudukan dalam lembaga legislatif atau eksekutif. Maka, yang diperjuangkan bukan lagi kepentingan mahasiswa.

Mengacu kepada hal tersebut, mahasiswa sebagai salah satu elemen progresif masyarakat, sangat dibutuhkan dalam Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkadal). Minimal, kehadiran mahasiswa mampu berperan sebagai social control. Pada tahun 2004 lalu, sebagian mahasiswa telah unjukgigi terutama berposisi sebagai pemantau pemilu. Begitu pula pada pilkadasu (pemilihan Kepala daerah Sumatera) nanti, mahasiswa harus turun gunung untuk menyukseskannya di daerah masing-masing.

Sejauh ini, kalangan mahasiswa masih tetap teguh memegang komitmen dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan berpihak pada kebenaran. Bila kita sinkronkan dengan pelaksanaan pilkada, tentu mahasiswa akan menyuarakan agar pilkada dapat menjadi langkah baru untuk menciptakan kondisi bersih dan good govermence.

Mahasiswa harus bergerak, merancang rencana ideal untuk berpartisipasi. Kelengahan mahasiswa dalam mengamati hal-hal bersifat teknis, bisa berakibat fatal. Tak berlebihan bila diungkapkan, bahwa dalam era kekinian, selain mahasiswa, baik pihak penyelenggara –KPU- maupun calon kepala daerah beserta tim sukses, sulit dipercaya secara kasatmata.

Pilkada kali ini sangat sangat menentukan proses demokrasi lokal dan arah daerah ke depan. Optimisme akan terciptanya suatu kemurnian dan keluwesan pada pilkada ini, akan merupakan hal yang signifiakan untuk melaksanakan pilkada. Hal ini, akan mengingatkan kita pada sebuah adagium ‘awal menentukan langkah berikut’.
Menurut Roger F. Soltau dalam Introduction To Politics: “Ilmu politk mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan itu; hubungan antara negara dengan warga negaranya serta dengan negara-negara lain”. Political science is the study of state, its aims and purpuse.............the institutions by wich these are going to be realized, its relation with its individual members, and other state. (Budiarjo, 2004: 4-9)

Ada pendapat mengatakan bahwa kata “politik” dalam bahasa sehari-hari sudah mempunyai arti khusus yang kurang baik yang menimbulkan assosiasi pada perbuatan-perbuatan yang tidak jujur, curang dan jahanam. Sarjana ilmu politik Nazi Jerman Carl Schmitt dalam karangannya “Der Bergriff des polistischen” telah menambahkan arti yang buruk pada kata politik itu dengan merumuskan secara berani dan tegas pengertian politik suatu pengertian yang membedakan antara “kawan dan lawan” (Sudjono, 1955: 3). Bagi Schmitt, politik itu adalah alat belaka untuk membedakan antara kawan dan lawan. Menurutnya hubungan kawan inilah Freud und Feind Vernaltnis yang merupakan esensi politik karena adanya keberatan-keberatan tersebut maka sebutan “Politik” untuk ilmu politik harus ditolak secara prinsipil.

Dalam buku pengantar sosiologi politik (Michael Rush dan Philip Althop), dipaparkan bahwa setiap orang −terkhususkan mahasiswa− bisa berpartisipasi dalam politik −pilkada− dengan cara masing-masing. Sebagai contoh, mahasiswa dapat melakukan diskusi politik pilkada di kampus; menulis berkaitan dengan politik pilkada di media massa; atau terlibat langsung dalam partai politik tim sukses. Karena itu, ada beberapa poin bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pilkada.

Pertama, mengapungkan wacana pilkadal di tengah masyarakat. Pandangan sekilas, pilkada belum membumi.
Kedua, menggencarkan voter education (pendidikan massa). Mengingat, pelaksanaan pilkadal sudah di depan mata, seakan mempertontonkan suatu ketergesa-gesaan. Maka dari itu, voter education perlu digencarkan, di sini partisipasi mahasiswa dalam membantu KPUD, dapat mengefektifkan pemerataan dalam proses pendidikan, berkaitan dengan proses pilkadal kepada masyarakat daerah.

Ketiga, mengawal dan memantau pelaksanaan pilkada. Pada pilkadasu 2008, mahasiswa cukup berperan dalam menyukseskan pelaksanaan pemilu dengan berafiliasi pada pemantau independen. Karena itu, pada hari pelaksanaan pilkada, mahasiswa dapat berpartisipasi dalam memantau serta mengawal proses pelaksanaanya.

Keempat, membangun wacana atau opini publik. Mahasiswa dapat menggiring masyarakat, agar memilih untuk pemimpin secara jujur dan sesuai hati nurani, serta menghimbau masyarakat untuk menghindari hal-hal yang dapat mengurangi nilai-nilai kemurniaan, dalam hal ini money politics pilkada. Selain itu, menggencarkan wacana bahwa kesuksesan pilkadal menentukan masa depan daerah.

Kelima, menggelar acara debat dan diskusi seputar visi dan misi kepala daerah di kampus. Cara efektif lainnya, mahasiswa dapat berpartisipasi dengan menggelar debat terbuka sebelum pilkadal bagi calon kepala daerah untuk menyampaikan visi dan misi serta kebijakan-kebijakan untuk menakhodai daerah lima tahun kedepan. Dari sini, mahasiswa dapat menilai, apakah yang bersangkutan layak untuk dipilih.

Berbicara dalam tatanan sejarah, gagasan pilkada merupakan adopsi wacana city state (negara kota) di zaman Yunani kuno. Pilkadal Daerah mendorong kita untuk menoleh kepada beberapa negara yang telah menerapkan sistem pemilihan lokal secara langsung. Secara riil, praktik ini tidak menimbulkan benih-benih keruntuhan nilai kesatuan bangsa dan negara, bahkan merealisasikan konsep secara utuh. Dalam pilkadasu, beberapa perlu di-booming-kan ke tengah-tengah masyarakat.

Pertama, pilkada merupakan potret utuh proses demokrasi. Konsekuensi logis dari pilkadasu secara langsung, memberikan inspirasi masrakat di daerah. Oleh sebab itu, pilkada diharapkan dapat melaksanakan proses pemilu demokratis di daerah.

Kedua, legitimasi pemimpin terpilih sangat kuat. Coba kita lihat, pemimpin terpilih, memiliki kedudukan dan berlegitimasi kuat. Harapan kita pilkada kali ini merupakan konsep ideal untuk memunculkan pemimpin kuat, pilihan atau selera rakyat daerah. Bukan pilihan wakil rakyat DPRD atau pesanan pemerintah pusat.

Ketiga, pemimpin terpilih harus memahami permasalahan daerah yang terpencil. Suatu hal penting, bahwa pemimpin daerah terpilih harus tahu dan tanggap dengan pelbagai permasalahan daerah tersebut baik dari ekonomi dan pendidikannya. Untuk itu, harapan masyakat dengan pilkada akan lahir seorang pemimpin daerah, tidak saja ingin tahu permasalahan daerah, tapi serius menanggapi dan berhasrat mencari solusi terbaik untuk memajukan daerah.

Untuk memenuhi ketiga harapan di atas, elemen mahasiswa yang selama ini cukup peduli dan tanggap, harus menunjukan eksistensi dan peran sebagai agent of change atau agen perubahan. Selain itu, elemen mahasiswa tak boleh lengah dan meremehkan terhadap proses pilkada. Pilkadasu ini, salah satu penentu masa depan Sumatera Utara.

(Mantan Sekretaris BEM Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi ‘Pembangunan’ Medan)