Selasa, 18 November 2008
Senin, 17 November 2008
PT Indofarma Tbk dilalap api, Warga Heboh!
Thursday, 16 October 2008
MHD DARWINSYAH PURBA & FAJAR ADESTYA
WASPADA ONLINE
MEDAN - PT Indo Farma, Tbk, yang terletak di Jln Adam Malik No.126, Kel. Cilalas Lingkungan 11, Kec. Medan Barat, Rabu (15/10), sekitar pukul 23.20 tadi malam dilalap si jago merah.
Pantuan Waspada Online dilapangan, warga sekitar sempat heboh karena dari tempat kejadian tidak jauh terdapat sebuah toko gas. Ditambah lagi pihak Dinas Kebakaran hanya berfokus kepada lokasi kebakaran sementara warga setempat dihantui ketakutan
kalau api tersebut merembet ke rumah warga.
Kanit Reskrim Medan Barat, Iptu M Yoga Buanadipta Ilafi, SH, yang turun langsung ke lokasi kejadian mencoba menenangkan warga sekitar yang panik karena terjadi keributan antara pihak Dinas Pemadaman Kebakaran tersebut.
Menurut keterangan Wati,56, kepada Waspada Online dilokasi kejadian, saat itu warga sedang tertidur lelap tiba-tiba di kagetkan dengan suara teriakan salah seorang karyawan PT Indo Farma, Tbk, yang memberitahukan kepada warga untuk meninggalkan rumah karena gedung PT Indo Farma, Tbk, terbakar.
"Karena dengar teriakan itu, kami panik dan lari ke luar rumah sambil menyelamatkan barang berharga" ujar Wati.
Petugas pemadam kebakaran yang datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 23.50 berusaha memadamkan api yang berasal dari lantai I gedung tersebut sudah merembet sampai ke lantai II.
Akhirnya api berhasil dipadamkan oleh petugas Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) sekitar pukul 02.00 WIB dinihari tadi. Hingga kini sebab kebakaran belum dapat diketahui dengan pasti karena pihak manajemen perusahan tidak berada dilokasi kejadian.
MHD DARWINSYAH PURBA & FAJAR ADESTYA
WASPADA ONLINE
MEDAN - PT Indo Farma, Tbk, yang terletak di Jln Adam Malik No.126, Kel. Cilalas Lingkungan 11, Kec. Medan Barat, Rabu (15/10), sekitar pukul 23.20 tadi malam dilalap si jago merah.
Pantuan Waspada Online dilapangan, warga sekitar sempat heboh karena dari tempat kejadian tidak jauh terdapat sebuah toko gas. Ditambah lagi pihak Dinas Kebakaran hanya berfokus kepada lokasi kebakaran sementara warga setempat dihantui ketakutan
kalau api tersebut merembet ke rumah warga.
Kanit Reskrim Medan Barat, Iptu M Yoga Buanadipta Ilafi, SH, yang turun langsung ke lokasi kejadian mencoba menenangkan warga sekitar yang panik karena terjadi keributan antara pihak Dinas Pemadaman Kebakaran tersebut.
Menurut keterangan Wati,56, kepada Waspada Online dilokasi kejadian, saat itu warga sedang tertidur lelap tiba-tiba di kagetkan dengan suara teriakan salah seorang karyawan PT Indo Farma, Tbk, yang memberitahukan kepada warga untuk meninggalkan rumah karena gedung PT Indo Farma, Tbk, terbakar.
"Karena dengar teriakan itu, kami panik dan lari ke luar rumah sambil menyelamatkan barang berharga" ujar Wati.
Petugas pemadam kebakaran yang datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 23.50 berusaha memadamkan api yang berasal dari lantai I gedung tersebut sudah merembet sampai ke lantai II.
Akhirnya api berhasil dipadamkan oleh petugas Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) sekitar pukul 02.00 WIB dinihari tadi. Hingga kini sebab kebakaran belum dapat diketahui dengan pasti karena pihak manajemen perusahan tidak berada dilokasi kejadian.
Minggu, 16 November 2008
Futsal HUT Ke-62 Harian Waspada
Tim Peserta Akhiri Masa Pra Kompetisi
MHD DARWINSYAH PURBA
WASPADA ONLINE
MEDAN - Masa pra kompetisi turnamen futsal dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Harian Waspada telah berakhir Sabtu (15/11). Dari delapan tim yang terdaftar sebagai peserta, tercatat hanya lima tim yang mengikuti pra kompetisi terakhir.
Kelima tim yang mengikuti pra kompetisi di lapangan Raja Futsal Jln. HM Joni itu, masing-masing tim Sport, Goss Community, Cobra Medan, Gank of Sumut dan Cheers United. Sedangkan tim Rambo Medan, Eskpedisi FC dan Marketing/Perkantoran absen.
Hasil pengamatan panitia penyelenggara, tercatat dua tim dinyatakan sebagai favorit juara yakni tim Goss Community dan Cheers United.
Dalam ujicoba terakhir, Goss Community menurunkan sejumlah pemain yang memiliki skill dan pengalaman bertanding. Sedangkan Cheers United diperkuat dua kiper tangguh, di antaranya Avian E Tumengkol.
Absennya striker Ferdinand Sembiring akibat cedera dalam masa pra kompetisi, membuat tim Cobra Medan harus menurunkan Ismanto Ismail.
Akibatnya, tim asuhan Edward Thahir dengan trio andalannya Hasanul Hidayat, Rudi Arman dan Sugiarto itu, harus berjuang ekstra keras pada babak penyisihan yang dimulai Sabtu (22/11) mendatang.
Sedangkan tim Gank of Sumut dengan manajer Feirizal Purba yang menurunkan M Zeini Zen, Sukariawan, Nurkarim Nehe dan Erzil Marcos, diperkirakan bakal menjadi batu sandungan bagi tim-tim favorit juara.
Sama halnya dengan tim Sport yang mengandalkan Marwan di bawah mistar serta Erwinsyah, Dedi Riono, Setia Budi Siregar dan Austin Antariksa Tumengkol sebagai ujung tombak, tidak akan menyerah begitu saja kepada tim-tim tangguh lainnya.
Ketua Umum Panitia Jonny Ramadhan Silalahi SH menjelaskan, para peserta turnamen futsal HUT ke-62 Harian Waspada itu akan dibagi dalam dua grup dan pertandingan akan digelar setiap Sabtu, 22 November s/d 20 Desember 2008.
“Meski turnamen ini bersifat kekeluargaan dan internal Waspada Grup, namun pihak panitia memberlakukan peraturan yang ketat. Tujuannya agar para pemain menjunjung tinggi sportifitas dan fair play dalam setiap pertandingan,” jelas Redaktur Olahraga Waspada tersebut.
MHD DARWINSYAH PURBA
WASPADA ONLINE
MEDAN - Masa pra kompetisi turnamen futsal dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Harian Waspada telah berakhir Sabtu (15/11). Dari delapan tim yang terdaftar sebagai peserta, tercatat hanya lima tim yang mengikuti pra kompetisi terakhir.
Kelima tim yang mengikuti pra kompetisi di lapangan Raja Futsal Jln. HM Joni itu, masing-masing tim Sport, Goss Community, Cobra Medan, Gank of Sumut dan Cheers United. Sedangkan tim Rambo Medan, Eskpedisi FC dan Marketing/Perkantoran absen.
Hasil pengamatan panitia penyelenggara, tercatat dua tim dinyatakan sebagai favorit juara yakni tim Goss Community dan Cheers United.
Dalam ujicoba terakhir, Goss Community menurunkan sejumlah pemain yang memiliki skill dan pengalaman bertanding. Sedangkan Cheers United diperkuat dua kiper tangguh, di antaranya Avian E Tumengkol.
Absennya striker Ferdinand Sembiring akibat cedera dalam masa pra kompetisi, membuat tim Cobra Medan harus menurunkan Ismanto Ismail.
Akibatnya, tim asuhan Edward Thahir dengan trio andalannya Hasanul Hidayat, Rudi Arman dan Sugiarto itu, harus berjuang ekstra keras pada babak penyisihan yang dimulai Sabtu (22/11) mendatang.
Sedangkan tim Gank of Sumut dengan manajer Feirizal Purba yang menurunkan M Zeini Zen, Sukariawan, Nurkarim Nehe dan Erzil Marcos, diperkirakan bakal menjadi batu sandungan bagi tim-tim favorit juara.
Sama halnya dengan tim Sport yang mengandalkan Marwan di bawah mistar serta Erwinsyah, Dedi Riono, Setia Budi Siregar dan Austin Antariksa Tumengkol sebagai ujung tombak, tidak akan menyerah begitu saja kepada tim-tim tangguh lainnya.
Ketua Umum Panitia Jonny Ramadhan Silalahi SH menjelaskan, para peserta turnamen futsal HUT ke-62 Harian Waspada itu akan dibagi dalam dua grup dan pertandingan akan digelar setiap Sabtu, 22 November s/d 20 Desember 2008.
“Meski turnamen ini bersifat kekeluargaan dan internal Waspada Grup, namun pihak panitia memberlakukan peraturan yang ketat. Tujuannya agar para pemain menjunjung tinggi sportifitas dan fair play dalam setiap pertandingan,” jelas Redaktur Olahraga Waspada tersebut.
Sabtu, 15 November 2008
Selasa, 11 November 2008
NKRI harus ratifikasi konvensi anti-hukuman mati
Mhd Darwinsyah PurbaMEDAN - Indonesia harus segera meratifikasi Konvensi Anti-Hukuman Mati karena hukuman itu tidak sesuai Undang-Undang Dasar 1945 dan kenyataannya hukuman paling maksimal itu tidak ada relevansinya dengan berkurangnya kejahatan atau lainnya.
Hal itu disampaikan Kepala Divisi Advokasi, HAM dan Demokrasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Muslim Muis, SH di kantornya, tadi malam, menanggapi pelaksanaan eksekusi mati di Indonesia, termasuk Amrozi dkk.
Menurut Muslim, dalam hukum positif di Indonesia hukum mati adalah tertinggi (paling maksimal). Tujuannya, untuk membuat orang jera dan takut melakukan hal yang sama.
Akan tetapi, katanya melanjutkan, dalam kenyataannya, hukum mati sudah tidak ada relevansi dengan berkurangnya kejahatan. Misalnya, hukuman mati sindikat narkoba di Sumut seperti Ayodia, Namsong Sirilak, Saelow Prasad, dan terpidana pembunuhan 42 wanita Ahmad Suraji alias Dukun AS alias Nasib Klewang, ternyata perbuatan sama dilakukan tersangka Ryan di Jawa Timur dalam kasus pembunuhan berantai. Sedangkan dalam kasus narkoba, ternyata masih ditemukan fabrik ekstasi.
’’Ini menunjukkan hukum mati sudah kehilangan legitimasi, apalagi dalam UUD 45 jelas disebutkan hak hidup adalah hak paling tinggi atau non de gredouble, yakni hak yang tidak dapat ditambah dan dikurangi,’’ katanya.
Tegasnya, kewenangan Tuhan mencabut nyawa manusia. Seolah-olah eksekusi yang selama ini dilakukan adalah perpanjangan tangan Tuhan. Padahal, perpanjangan tangan Tuhan adalah Nabi yang menyampaikan ajaran-ajaran-Nya.
Praktisi hukum dari LBH Medan ini juga mengemukakan, ternyata pula hukuman mati hanya dijadikan sebagai sebuah eksperimen seolah-olah nyawa manusia dijadikan alasan untuk penegakkan hukum. ’’Wah. Ternyata Indonesia telah menegakkan hukum karena telah mengeksekusi mati Amrozi dkk maupun terpidana sindikat narkoba. Dan lebih sakitnya lagi, eksperimen tentang nyawa ini hanya di tangan seorang presiden, yakni berupa hak serta kewenangan Grasi,’’ ujarnya.
Menurut Muslim, dari seluruh hasil penelitian tentang hukum mati yang dilaksanakan untuk membuat orang lain jera, pada kenyataannya hukuman mati yang diterapkan di satu negara itu tidak mengurangi dan menghilangkan perbuatan yang sama.
Dia juga menyinggung perihal hukuman mati yang dilaksanakan terhadap Amrozi dkk.
Menurutnya, biaya yang dikeluarkan oleh negara untuk itu terhitung sangat besar, mulai dari biaya pengamanan, media dan lainnya. Ini, untuk memunculkan opini, Indonesia telah melaksanakan penegakan hukum. Padahal, masih ada yang sudah puluhan tahun dan hingga kini belum dieksekusi.
’’Justru itu kita mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi Konvensi Anti-Hukuman Mati, karena hukuman mati sudah tidak sesuai lagi dengan instrumen internasional,’’ ujarnya.
Memang, kata Muslim, kita tidak sependapat dengan aksi pembunuhan, tetapi apakah aksi itu harus dibalas dengan pembunuhan pula. Atau, mestikah nyawa dibalas dengan nyawa dan kalau memang demikian, berapa banyak nyawa yang melayang akibat pembantaian AS seperti di Vietnam, Afghanistan, Irak dan Timur-Tengah dan siapa yang bertanggung jawab.
Kumulasi
Ketika ditanyakan, bagaimana jika nanti sudah tidak diberlakukan hukum mati, Muslim menyebutkan, jika sudah lagi maka semestinya kumulasi hukuman, yaitu kurungan badan ditambah dengan kerja sosial. Kerja sosial itu bisa berupa membersihkan sampah, parit, lingkungan yang dilaksanakan terpidana selama masa hukuman badannya. Kalau seumur hidup, maka selama itu pula si terpidana melakukannya.
Cuma saja, tambahnya, kita mempertanyakan konsisten para non-Government Organization (NGO/LSM) anti hukuman mati. Ini, terkait eksekusi mati Amrozi dkk ternyata tidak ada NGO yang meributkannya dan melakukan demo besar-besaran. Padahal, ketika Tibo Cs pelaku pembantaian sekitar 700 ratusan umat Muslim di Tobelo akan dieksekusi mati nyaris semua NGO meributkannya dan berdemonstrasi supaya itu tidak jadi dilaksanakan.
Namun, ketika Amrozi dkk dijatuhi hukuman mati lalu kemudian akan dieksekusi, LSM anti hukuman mati diam saja. Tidak ada protes dan aksi demo penolakannya. “Jangan-jangan LSM anti-hukuman mati inkonsisten dalam perjuangan menentang hukuman mati,” ujarnya.
Minggu, 09 November 2008
Cerpen Pujangga
Aku Ingin Menikah Mak..!!!Oleh Mhd Darwinsyah Purba
Perlahan aku membuka amplop yang berisikan surat ternyata dari adik bungsuku yang berada di Bandung dan aku langsung membacanya dan syair indah ini sebagai mukhadimahnya.
Puisi Seorang Suami Kepada Isterinya
Kemaafanmu adalah kelangsungan cinta
jangan meradang ketika api sedang membara
jangan bertingkah walaupun hanya sekali
karna kau takkan faham apa yang kutanggung
di perantauan hindarilah daripada berkeluh kesah
takut ketuaanmu segera menjelma dan aku hambar
sesungguhnya hati mudah berubah
sesungguhnya cinta dan kemarahan itu
apabila bertemu maka cintalah yang mengalah…
lalu....
Aku ingin menikah Mak!!! Ini maksud dari suratnya…membuat jantungku berdetak kencang yang tidak lagi mengikuti detik jarum jam, lalu ku baca surat adik bungsu itu yang aku dapati di atas meja. Dia tidak tahu bahwa emak lagi keluar kota ada urusan keluarga.
Mak! aku sangat menyukai puisi Shyaikh Jalaluddin Rumi di atas, aku jadi memberanikan untuk menulis surat ini kepada emak tercinta Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri, ya... sesuatu yang sangat sakral dalam kehidupan sepasang pencinta.
Aku tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan erat yang tak seperti dimainkan layaknya orang yang berpacaran. Aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang suami yang berbakti kepada keluarga, mempunyai anak dan mengurus mereka bersama istriku. Suami itu ibarat rumah, sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan aku suka akan hal itu karena ada tantangan yang harus aku lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir untuk diriku sendiri dan cucumu kelak. Aku tidak peduli status ataupun strata sosial calon istriku, bagiku ningrat atau apalah sebutannya terhormat aku tetap tidak peduli.
Aku tau, ini nggak gampang untukmu, memang banyak hal yang harus dipikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, di mana manusia tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan telah tercapai, pasti menginginkan hal yang lain lagi. Hidup di dunia bagaikan di padang pasir semakin banyak kita meneguk air semakin dahaga.
“Mak!!, dimata tuhan setiap hamba-hambanya sama kecuali akhlaknya, begitu ungkapan bapak ustadz tempat aku mengaji sekarang, bukan kedudukan, keturunan ataupun jabatan yang membuat seseorang mulia tetapi akhlaklah yang dapat menjadi seseorang mulia di sisi tuhan dan Diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Amru ra. bahwa baginda Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini ialah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia itu ialah wanita solehah”. Hadis ini yang menjadi sandaran aku dalam memilih pasangan hidup.
Selain bekerja bahwa menikah itu juga ibadah, dengan menikah berarti aku telah menyempurnakan ibadahku dan keparipurnaan menjadi seorang laki-laki sejati. Menikah bukanlah hal yang paling manakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing namun, aku pernah membaca Hadis yang berbunyi “Wahai anak muda, menikahlah. Sesiapa yang mampu, menikahlah karena ia lebih memelihara mata dan menjaga faraj. Sesiapa yang tidak mampu untuk menikah hendaklah dia berpuasa kerana puasa adalah penahan (daripada gelojak nafsu)” (Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari).
Aku bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luangku, diluar rumah karena ada seorang istri yang menantiku dirumah, menyediakanku segala hal yang aku perlukan karena aku pulang kerja hingga larut malam bayangkan. “emak kan tahukan bahwa aku tidak suka susu? Tapi aku sekarang sudah mulai menyukainya mak” ia selalu memberikan ketika aku hendak berangkat kerja Subhanallah...!! betapa indahnya...laksana rama dan shinta di taman syurgaloka.
hasratku ini sekarang sangat kuat seperti badai-badai di laut biru, meski banyak pro dan kontra akan keinginanku ini, ada yang memberiku nasehat untuk menyegerakan pernikahan karena islam melarang seseorang menjomblo dan usiaku yang terbilang dalam bilangan kelewat baliq bagi seorang laki-laki, menurutku pantas sekali untuk menikah, karena aku mengkhawatirkan usia ini dan kesalahan yang akan kulakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.
Hipotesaku 3 tahun lebih cukup untuk mengenal karakter masing-masing dan aku rasa aku telah cukup mengenal keluarganya. Apa pikiranku ini salah? Mungkin engkau tlah banyak menyusun rencana untuk masa depanku, aku dukung semua itu, tapi aku tak mau terlalu berencana Mak, karena terlalu sakit kalo semua itu tak seperti yang kita harapkan, bukankah kita lebih mantap menyusun planning saat kita sudah menikah? Menyatukan untuk satu tujuan, apa-apa saja yang ingin kita raih dan kita miliki.
mungkin banyak hal yang terpikir dikepalaku, seperti memiliki sebuah rumah dan Mendamba keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah dan barokah tapi tidakkah emak tau itu pasti bisa aku dapatkan dan aku yakin apalagi didalam kamusku tidak ada kalimat tidak bisa, aku bisa mewujudkan impian tersebut bersama-sama istriku .
Aku bukan penganut faham yang mengatakan belum siap menikah apabila belum mapan dari segi materil, emak ingin segalanya perfect saat untuk melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang pernikahan. Itu wajar, aku tau mak melakukan semua itu karena ingin membahagiakan aku. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi di era globalisasi seperti ini, di mana persaingan semakin ketat, juga mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder tapi tuhan maha mengetahui karna sebelum roh manusia di ditiupkan tuhan semesta alam sudah mencatat pertemuan, jodoh, rezeki dan maut setiap hamba-hamba-Nya sudah diatur dan kalo tidak mempercayai hal itu berarti aku bukan seorang muslim yang baik dong!!!! Dan aku tidak mau berburuk sangka terhadap tuhan.
Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi jika kita mempunyai nawaitu yang baik untuk suatu urusan, aku yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai nawaitu untuk menyempurnakan. Dan selama ini aku telah memiliki nawaitu yang tulus dalam hatiku, walau aku sempat merasa putus asa, namun perlahan tapi pasti, aku mendapatkannya satu demi satu, tawaran itu mengalir walau belum seperti yang engkau inginkan, hanya saja itu adalah proses pendewasaanku.
Aku tak bisa menjelaskan dengan detail akan hal ini, aku takut engkau akan merasa seolah aku menggurui atau mungkin memaksa emak untuk menentukan jodohku, bukan-bukan itu yang aku mau..mak, aku hanya ingin meluruskan maksud mak karna sampai kapanpun emak bagiku adalah tuhan yang nyata di dunia sekaligus guru terbaikku, aku akan tetap menunggu keputusan dari emak. Tapi aku tak mau emak terus berpikir akan semua materil, status atau yang lainnya karena aku yakin seiring berjalannya waktu kami pasti bisa mewujudkannya bersama-sama impian yang sekian lama aku impikan bersama seorang Ummul mukmininku.
Banyak orang yang sukses, pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi karena mereka mau berusaha, bahu-membahu dan didampingi oleh istri tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya, aku tak mau diri emak sakit, hanya kerena siapa yang layak mendampingiku. Siapapun layak mendampingiku asal ia memiliki akhlak dan hati yang suci.
Mak... aku ingin melihat emak juga bercengkrama dengan buah hatiku seperti engkau bersama keponakku lika anak perempuan adikku.
Semoga mak mau menerima keinginan hatiku yang paling dalam bahwa aku sudah ada pilihan untuk menemani hidupku percayalah mak ia layak bersanding denganku dan menjadi menantu perempuan emak karna si Azizah adalah perempuan yang sempurna bagiku Insya Allah bulan depan aku pulang ke kampung halaman untuk meminta restu emak dan keluarga besar di di sana.
Semoga emak merestuiku.....
WASSALAM !!!
Tak kuasa aku membaca surat dari adik bungsuku, pikiranku berputar seraya aku berada di komedi putar di taman ria, mungkin semua yang dikatakan Wewen pada surat itu benar adanya, karena mungkin ia takut mak tidak menerima calon istrinya karna dari golongan keluarga biasa-biasa saja.
hatiku terus berkata, “apa yang harus aku lakukan? Kalo aku beritahukan pasti mak susah menerimanya, beliau bisa marah seperti gunung kerakatau yang meletus, aku terpaku di antara dilema-dilema yang semesti tak ada di muka bumi ini, aku sebenarnya kurang sefaham dengan faham emakku tapi sejelek apapun beliau tetap ibuku yang paling aku sayangi”.
“Ya rabb... tunjukkan jalan bagi orang-orang yang ingin menjalani ibadah kepada-MU...”
Cerpen Pujangga
Oleh Mhd Darwinsyah Purba
Perjalan mencari ilmu bagaikan anak-anak sungai menuju samudera biru, jalan menuju sukses teramat pahit rasanya namun suatu ketika akan menghasilkan buah yang sangat manis. Karena para ilmuwan, satrawan dan cendikiawan adalah para pencari jalan tuhan. Mereka telah menyeluruhi pahit-manisnya dalam pencarian dalam meraih cita-cita yang diinginkan. Merekalah pejuang-pejuang hebat yang akan menjadi pemimpin agama, bangsa dan rumah tangganya kelak dikemudian hari.
Namanya Rumi. Seorang anak tunggal, dari keluarga miskin. Bapak Ibunya seorang manusia biasa yang kerjanya tidak tentu alias serabutan. Tetapi meski begitu, kedua orang tuanya tidak pernah membiarkan Rumi untuk bernasib seperti mereka. Bapak dan Ibu Rumi meski merupakan orang-orang pinggiran yang hidup hanya cukup untuk makan hari ini saja, tetapi mereka lebih agamais dari kebanyakan orang lain pada umumnya. Mereka selalu bersyukur kepada tuhan sang penggenggam langit dan bumi. atas anugerah yang dilimpahkan yaitu seorang anak yang bernama Rumi al-Qardhawi nama pemberian nenek yang berada di kota Barus yang berada daerah Tapanuli Tengah di salah kota tempat mengajar SYEIKH Hamzah al-Fansuri seorang Sastrawan dan sufi agung yang telah banyak dibicarakan orang yang hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Rumi adalah sosok anak yang tidak pernah meninggalkan Shalat lima waktu dan setiap tengah malam selalu shalat Tahajud selain itu ia juga rajin menulis puisi-puisi dan bermain gitar untuk melepas inspirasinya. Sehabis shalat kedua orang tuanya selalu memanjatkan doa agar anak satu-satunya bisa berguna bagi Agama, keluraga dan bangsa. Hanya satu tekad yang ingin diwujudkan oleh orang tua Rumi, yaitu menyekolahkan Rumi setinggi-tingginya walaupun perekonomian mereka pas-pasan namun agar menjadi orang yang berhasil, yang bernasib lebih baik dari kedua orang tuanya.
Rumi yang sudah duduk di bangku SD dari situlah karya-karya kecilnya mulai dituangkan lewat lomba-lomba menulis di sekolahnya sehingga hasil yang di dapat dari lomba tersebut dapat melanjutkan sekolahnya dengan mendapat beasiswa karena karya-karya selalu menjadi jawara baik tingkat sekolah maupun lomba-lomba yang di adakan di luar sekolah dan Rumi mulai tumbuh dewasa, perlahan-lahan mulai memahami benar betapa susahnya kedua orang tuanya, yang pontang-panting, banting tulang dan utang sana-sini berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
Ada suatu keinginan bagi Rumi untuk membantu kedua orang tuannya. Suatu saat Rumi memberanikan diri menjadi pengamen jalanan dan penyemir sepatu tanpa membritahukan kepada kedua orang tuanya. Dan uang hasil mengamen dan menyemir sepatu, dia belikan buku-buku pelajaran dan ia sendiri memang maniak membaca terkadang di tengah-tengah hiruk-pikuk jalan raya kalo tidak kesibukan mengamen dan menyemir ia menyempatkan untuk membaca karena kata guru ngajinya bahwa dengan rajin-rajin membacalah engkau karena dengan membaca engkau dapat mengetahui hal-hal yang tidak pernah engaku ketahui sebelumnya dan bukankah firman Allah yang pertama turun adalah “Iqro” yang artinya “bacalah” dari hal tersebutlah ia begitu tekun dan rajin membaca untuk menambah hasanah berpikir.
Tanpa disadari Orang tuanya yang melihat keanehan tersebut lalu bertanya pada diri Rumi padahal orang tuanya tidak pernah memberi uang untuk membeli buku-buku yang ia butuhkan tapi kenapa ia setiap pulang dari misi rahasianya selalu memegang buku-buku itu .
“Nak, darimana buku-buku ini, setiap bulan selalu kamu peroleh buku-buku pelajaran. Padahal Bapak Ibumu tidak memberimu banyak uang”. Dengan penuh tanda tanya besar dan sedikit curiga namun nadanya masih pada koridor-koridor yang lemah lembut
“Buku ini hasil sumbangan dari seorang dermawan di sekolah pak” penuh perasaan yang di hantui rasa takut yang tersembunyi dari balik hatinya karena sebenarnya ia sedikit tidak begitu pandai berbohong apalagi sama kedua orong tuanya itu namun untuk misi kecilnya itu ia harus berbohong.
“Oh begitu, syukurlah....semoga Dermawan itu mendapat Pahala yang banyak di sisi Allah SWT.”
Haripun berjalan lagi, jarum jam laksana air sungai yang tidak pernah mau berhenti mengalir ke muara, detik demi detik berubah menjadi hari demi hari dan bergulir seperti biasanya. Embun yang menghiasi mawar kelopak mawar dan dedaunan masih manari-nari di pagi hari, dan langit juga masih berwarna biru-putih di. Rumi yang tidak ingin melihat orang tuanya menderita, tetap membantu kedua orang tuanya secara diam-diam. Tetapi lambat laun mereka pun akhirnya tahu.
“Nak, kamu ini masih kecil. Kami tidak mau kamu menjadi seperti ini. Tolong, belajarlah saja yang tekun. Urusan uang sekolah, biar bapak dan ibumu yang memikirkan jalan keluar. Kami ingin kamu benar-benar belajar, agar nasibmu tidak seperti kami yang bodoh dan miskin ini. Biarlah bapak ibumu yang menderita, asal kamu bahagia selalu sepanjang hayatmu bersama istri dan anak-anak”.
“Benar, Rumi apa kata bapakmu nak, biar kami yang mencari jalan keluar bagaimana agar kamu berhasil” nada suara lemah lembut ini begitu sambil mengelus-elus rambut anak lelaki satu-satunya
“Kamu buat malu bapak saja!!! Disuruh sekolah malah ngamen!!!”
“Sudahlah pak dia kan masih anak-anak yang belum tahu apa-apa”
“Belajar itu penting jangan seperti kami, bapak dan ibu ini miskin karena tidak sekolah tau kamu..!!!!”
Tak terasa Rumi air mata membanjiri pipih lugu dan tulus itu. Sebuah air mata antara sedih dan bangga. Sedih karena melihat kedua orang tuanya hidup susah dan bangga karena dalam kesusahan hidup, kedua orang tuanya masih memikirkan kebahagiaan dirinya.
Tahun-demi tahun berganti, Rumi pun sekarang sudah berhasil duduk diperguruan tinggi ternama. Hasil jerih payah kedua orang tuanya tidak sia-sia. Dari hasil kerja serabutan dan hutang sana sini, orang tua Rumi berhasil menyekolahkan anaknya. Tetapi apa daya, hutang-hutang yang dipinjam orang tua Rumi dari seorang rentenir belum bisa terlunasi. Kesehatan kedua orang tuanya juga mulai menurun dan sering sakit-sakitan karena hidup yang tidak layak. Dan, Rumi pun tahu persis apa yang terjadi. Untuk itu Rumi pun memberanikan diri kuliah sambil bekerja lagi, meski tadinya orang tuanya ingin agar Rumi konsentrasi belajar agar cepat lulus kuliah.
Dari hasil memberi kursus-kursus privat di sana-sini, Rumi mulai bisa membantu membiayai kuliahnya dan mencicil hutang orang tuanya. Tetapi ternyata masih kurang. Hutang yang sudah jatuh tempo membuat rumah mungil satu-satunya disita oleh rentenir sialan itu karena kalo tidak segera dilunasi bapak akan dilaporkan ke pihak yang berwajib. Dan terpaksa mereka mengontrak sebuah rumah petak yang jauh dari kesan layak huni.
Kondisi sakit yang cukup parah yang dialami bapaknya, membuat Rumi agak gugup menghadapi kehidupan ini namun ia tidak pernah berburuk sangka kepada tuhan atas situasi dan kondisinya saat ini. Memang ada sedikit perasaan takut menghujani pikiran akan masa depan dia. Kini hanya ibunya yang mencari pekerjaan serabutan ditambah kerja sampingan Rumi dengan mengirim puisi-puisi dan tulisan di suratkabar syukurnya karena karya-karya dia sudah di kenal khlayak. Selain ia Beruntung mendapat beasiswa karena prestasinya yang bagus di bidang akademis.
Dan waktu yang ditunggu-tunggu pun datang, Rumi berhasil menamatkan kuliahnya. Hari bahagia yang ditunggu-tunggu kedua orang tuanya agaknya akan terjadi. Tetapi sayang, satu hari menjelang wisuda, Bapak Rumi meninggal dunia. Bagai kiamat sudah datang, kesedihan menimpa Rumi. Dipeluknya ibu tercintanya dan mereka berdua menangis sewajarnya. Rumi dan Ibunya merelakan serta mengiklhaskan orang paling mereka cintai menghadap sang maha pemilik maha.
“Sayang bapaknya tidak bisa melihat anaknya memakai Toga wisuda” suara hati kecil ibunya pada waktu acara ritual wisudawan dilaksanakan, lagi-lagi air itu pun tanpa disadari menetesi wajah Ummul mukmininnya .
Kini, setelah Wisuda, ada tugas baru bagi Rumi. Dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang sudah mulai tua. Beruntung, dia langsung diterima diperusahaan ternama. Dan lambat laun, kehidupan Rumi dan ibunya mulai normal kembali. Tetapi, ketika kehidupannya mulai normal, ibu Rumi pun menyusul bapaknya yang telah pergi. Rumi tak kuasa menahan kesedihan dirinya. Dia menangisi ibunya yang telah meninggal betapa sakit hatinya belum sempat membalas cinta kasih bapak ibunya mereka telah meninggalkanku.
Hari berlalu, dan kini Rumi pun sendiri. Sendiri sebagai seorang yang mandiri dan berkarir bagus dalam pekerjaannya. Dalam bekerja tidak lupa dia luangkan waktu sejenak untuk shalat lima waktu, sekaligus selalu mendoakan kedua orang tuanya yang bagaikan malaikat di dalap kehidupannya, agar diterima disisi-Nya.
Sekarang, Rumi sangat bahagia meski kedua orang tuanya telah meninggal. Bahagia menyaksikan anaknya sekarang, karena Orang tuanya layak mendapatkan surganya, terbebas dari penderitaan dunia. Surga atas jerih payah mendidiknya menjadi seorang manusia yang berguna bagi semesta alam. Sekarang masa depan telah menantinya.













